Separuh Agama

Categories Kisah

Alhamdulillah, masyaaAllah, atas semua karunia, atas semua yang harus dipelajari.

Niat memberi yang terbaik tentu tak semudah itu direalisasikan, bahkan ketika kau bilang siap, kau merasa punya. Aku tak tahu pasti, kami (aku) yang kembali kekanak-kanakan atau sedang dimabuk cinta. Sebagai pasangan baru, banyak tanggung jawab lain yang saat ini belum bisa dilaksanakan dengan baik (akademik, amanah dakwah) sementara urusan rumah tangga juga belum mahir (masak terutama), karenanya aku merasa kehilangan fokus.

“We were just kids

But we’re so in love

Fighting against all odds..”

Ya, ada cinta Allah yang perlu diperjuangkan secara khusus. Ada orang-orang yang paling tidak ingin dibuat kecewa. Ada hal-hal yang bisa-bisa sangat disesali di akhirnya. Zahrin tidak boleh terlena!

Kita bisa apa, sayang… Kita ini selamanya faqir kepada Allah.. Teramat banyak hajat kita kepada-Nya, setiap hari, menit ke menit.. Karena bahkan soal cinta dan harapan yang senantiasa ingin disampaikan, hanya Allah yang bisa bimbing cara mana yang terbaik.

Aku pernah memberitahumu di waktu ‘mendongeng’ kita. Ketika kutanya, “menurut Abang kenapa menikah itu disebut separuh agama?”

Selain bahwa hampir seluruh kegiatan kita bersama insyaAllah menjadi berpahala, selain bahwa ada tambahan banyak tanggung jawab yang jika dilaksanakan akan memberatkan timbangan kebaikan, menurutku ada sesuatu tentang hati.

Ulama mengatakan bahwa ada beberapa tingkatan niat dalam beribadah; seperti anak kecil yang memulai shalat karena takut dimarahi, lalu lama-lama belajar bahwa shalat adalah tanggung jawab/kewajibannya. Setelah merasakan manfaatnya ia shalat karena bermunajat adalah kebutuhannya. Akhirnya, seperti Rasulullah SAW, yang beribadah untuk bersyukur.

Menemukan teman sejati, kenyamanan serasa rumah sendiri, senyuman yang  tak bosan menyinari seperti mentari, seorang dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya yang siap saling menyempurnakan, dengan cinta yang Allah tumbuhkan menjadi ranting dan dahannya… Tentu akan membuat kita menyadari betapa besarnya cinta Allah kepada hamba-Nya, sehingga genap syukur kita. Dengannya, semoga setiap ibadah dilakukan untuk bersyukur.

“..Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” QS Saba’ : 13

Maka kukatakan, “yang perlu kita lakukan adalah memastikan, apakah setelah ini iman kita menguat dan semakin bertaqwa.” Semoga kedua hal itu selalu bisa menjadi indikatornya. Lagipula, memang sejak awal cinta-ketulusan-kesetiaan ini Allah yang kuatkan. Alhamdulillah.

Saling mengingatkan, ya, sayang?

Yogyakarta, 28 Maret 2018

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *