Satu Lagi Komposisi Sabar

Categories Kisah

Aku kini mulai memahami, bahwa kesabaran erat kaitannya dengan kesombongan dalam diri.
Contohnya, saat koas dulu disuruh ini-itu sampai kelelahan pun masih bisa sabar, nggak cemberut, nggak nangis. Karena sadar diri statusnya paling junior, paling nggak bisa apa-apa, nggak berhak apa-apa kecuali belajar. Sedangkan di lain waktu, nggak dapat yang diinginkan atau keadaan nggak sesuai keinginan sedikit aja cemberut, nangis. Merasa harusnya dapat, merasa berhak. Padahal siapa sih aku ini?

Aku ini nggak terbiasa menderita. Maksudnya, sepertinya ambang nyeriku rendah. Ada yang nggak beres sedikit di badan misalnya, aku merasa nggak terima. Mungkin ini bagian dari “kesombongan” ya. Waktu kecil penyakitku macam-macam, setelah itu kapok dan jadi berusaha macam-macam. Setelah merasakan kejayaan, kupikir itu karena usahaku. Padahal, semua itu kalau dicabut ya semau Allah.

Saat kerepotan mengurus si kecil dan merasa ingin mengeluh, aku ingat siapa sih aku ini. Hamba yang dosanya menumpuk dan perlu dihapus bukan?
Saat lelah dan agak emosi, ingin marah ke orang lain yang kurang membantu, aku mulai ingat siapa aku ini. Yang memang sudah seharusnya berjuang, sampai capek pun, sampai tak mampu lagi. Yang sudah seharusnya berkorban. Yang sudah seharusnya berbakti malahan, yang sudah seharusnya bersyukur dengan memberi dan bukan menuntut. Yang nggak lebih baik dari siapapun.

Kurasa ini berlaku untuk segala hal. Aku berdoa Allah jauhkan dari kesombongan dalam segala hal. Kesombongan yang bertahun-tahun coba dienyahkan.

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *