“Cerah hati kami, kau semai nilai nan suci

Tegak panji ilahi, bangkit generasi rabbani

Duhai pewaris nabi, duka fana tak berarti

Negeri kekal nan abadi balasan ikhlas di hati”

Ada yang tahu potongan syair ini?

Ada yang rindu pada sosok dibaliknya?

Sembilan tahun yang Jogja berikan pada saya adalah tentang sosoknya. Nama-nama yang tak ingin disebut dan tak pernah minta diingat, tapi mereka bersatu padu dalam barisan dan doa. Berharap pesan kebenaran dan keadilan sampai ke penjuru negeri, diwariskan setiap generasi. Tak perlu ada figuritas, barisan ideologis selalu bisa kokoh dengan sistemnya.

Betapa saya dikuatkan berjalan karena bersama orang-orang ini, mereka yang melebur dalam perjuangan, saling berendah hati dan tidak meminta diberi apa-apa. Saat ujian kesendirian mendera dan terbersit untuk minta apa-apa, genggaman tangan mereka mengingatkan kembali akan janji pengorbanan, bagi yang mengaku ingin berjuang dalam barisan ‘tentara Allah’ (karena betapa hidup di dunia ini terlalu mengharukan untuk dilalui dengab duduk-duduk!). Indah sekali hidup saya rasanya, begitu terarah, begitu menggelora.

Kini ujian kesendirian datang lagi berupa lompatan-lompatan fase hidup. Dulu mahasiswa kini dokter, dulu perempuan independen kini istri dan ibu soon-to-be, dulu orang Jawa kini perantau di Kalimantan, dengan berbagai tanggung jawab di dalamnya. Saya tidak hebat melalui ini tanpa mereka, I was definitely a loser I can tell. Sampai saya mengingat tiap titik koma dari apa yang mereka titipkan pada saya. Semoga saya bisa bergabung jadi prajurit Allah lagi di sini, dan selamanya.

Kotawaringin Lama, 4 Muharram 1440H

—Jalan Allah yang mengikat kita dengan rabithah—

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripasa Allah? Maka bergembiralah dglengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. 9: 111)

“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS 18:110) ayat yg turun ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, “aku suka berjuang di jalan Allah dan suka bila orang lain melihatnya, tidak mengapa?”

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *