Ingin aku bercerita, meski pada ruang kosong
Di sini Tuhan membiarkan makna silih berganti
Terbang dan berputar tanpa bisa kusimpan sendiri
Sedari awal baris demi baris ini memang milik-Nya,
Mendengarnya pun hak semesta
 
Aku masih tidak tahu
Apa geranganruang kosong ini
Mungkinkah di sini jadi jelas pandangku
Mudah langkahku meraih pintu menuju taman-taman-Nya itu
Atau hanya salah satu ruang, di antara banyak ruang lain 

Tapi ingin aku bercerita pada ruang kosong
Tentang mengapa syukurku tetap di sini, nyamanku justru di sini,
Harap cemasku selalu di sini, sesalku bercampur di sini.
 
Dan pintu itu, satu-satunya yang menjadi penentu. Ke sana kau arahkan hidupmu, pandanganmu. Biarlah yang lain berlalu.

Bayangkan sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan ini sepi, semuanya putih kecuali sebuah pintu. Hanya ada kau dan Allah, yang kelak akan membukakan pintu itu. Pintu menuju akhirat, sebuah kehidupan yang abadi. Kau bisa membayangkannya. Tapi pertanyaannya, di mana ruang itu kau temui?

Setiap orang yang menemukan Allah sesungguhnya pasti pernah mampir ke sana. Mungkin bisa dibilang, itu merupakan sebuah fase di hidupmu. Ketika dunia yang penuh pertanyaan, permasalahan, godaan dan tipuan menjadi begitu fana di hadapan cinta dan besarnya harapan yang ditawarkan oleh-Nya. Di ruang itu kemudian, mengingat-Nya yang selalu memandang ke arahmu, menjadi begitu nikmat. Mengucapkan “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar” saja membuat hati sangat bahagia, meluap oleh syukur.

Jika demikian, bukankah seharusnya seorang hamba sudah tinggal di sana? Iya, seharusnya. Tapi ada banyak ujian dari Allah. Entah apa skenarionya, tiba-tiba kita lupa dan menginginkan hidup yang warna-warni, penuh gemerlap dan pujian, seperti yang kini mudah sekali orang-orang umbar. Tidak harus tentang rezeki berupa jalan-jalan, kesuksesan studi atau prestasi lainnya. Bisa tentang sahabat, keluarga atau kesempatan kedua. Mudah sekali bagi kita untuk membanding-bandingkan dengan diri sendiri. Oh, tidak terbayang sudah berapa orang yang jiwanya merasa hampa gara-gara itu. Tidak terkecuali kau. Sampai bingung ketika akhirnya menjumpai ruang kosong. Saat tiba-tiba sendirian lagi, tiba-tiba tidak tahu harus memilih ke mana.

Alhamdulillah, ketika akhirnya menyadari kembali, tentu tak ada hamba sejati yang mau pergi lagi dari sini. Sebuah ruang kejujuran, bagi hamba di hadapan Tuhannya. Maka ruang kosong ini adalah sebuah ruang yang sangat esensial, harus selalu ada dalam hidup kita, menjadi hidup kita. Tanpa harus menyalahkan orang-orang yang berbagi kebahagiaan misalnya, kita seharusnya tetap berdiri dalam ruang kosong tersebut. Kita harus pastikan ucapan “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar” masih paling manis di hati, shalat tetap penyejuk hari.

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *