Review Stase Anak

Categories Pengalaman

Kata orang, stase anak itu stase terberat. Awalnya kupikir pasti jadwalnya padat, beban belajarnya banyak, ternyata benar hehehe. Tapi, setelah enam pekan, ternyata di sini aku juga dapat banyak banget pelajaran kehidupan, pelajaran yang menohok-nohok tapi juga menginspirasi. Ternyata, yang paling berat adalah tuntutan profesionalisme di stase/departemen ini.

Namun pertama-tama, di stase anak, kita belajar mencintai pekerjaan kita melayani orang sakit, meski melayani dapat berarti menyerahkan waktu kita yang terbatas dan berharga ini untuk kegiatan yang mungkin kita sendiri belum bisa merasakan langsung manfaatnya. Di sini aku merasa lebih mudah belajarnya, karena pasiennya bayi-bayi unyil unch unch. Keliling setiap jam ‘hanya’ untuk mengecek tanda vital pun jadi menyenangkan. Kamu juga merasakannya kan? 🙂

Kalau kata Kahlil Ghibran, “I slept and I dreamed that life is all joy. I woke and I saw that life is all service. I served and I saw that service is joy.”

Berkesempatan menjalani stase di Muntilan bersama seorang konsulen yang luar biasa memberi jalur roller coaster tersendiri. Di awal kedatangan, sungguh lajunya amat pelan mendaki. Kami bertiga tidak dibersamai residen selama tiga minggu totalnya, yang seharusnya membimbing bagaimana melengkapi status (rekam medis) pasien, menghitung kebutuhan cairan dan nutrisi setiap tahun umur dan kilogram berat anak, berpusing-pusing bersama menentukan diagnosis kerja untuk memulai pemeriksaan lanjutan dan terapi, dan tentunya penanganan kegawat-daruratan pada bayi baru lahir yang gagal bernafas spontan pertama kali (disebut neonatal resuscitation).

“Gimana, kalian mau usul sama dekan? Usul supaya periode belajar di kelas saat S1 dikurangi saja dan koasnya diperlama??” Komentar sang konsulen kemudian. *Sungguh tiga minggu kerja yang clueless….

Aku sendiri menyesal karena tidak sempat belajar banyak lagi sepulang jaga, karena tidak memanfaatkan kesempatan sebanyak mungkin-malah disibukkan oleh those administrative papers, only!

Aku juga merasa buruk karena beberapa kali tidak becus menjalankan tugas, apalagi kalau dibandingkan Tania dan Ucan-best partners yang tahan banting. Aku baru ‘tertimpa’ akibat perilakuku yang manja, yang doyan tidur habis subuh, yang peduli banget sama diri sendiri dan pelit waktu dengan selalu datang mepet-mepet jadwal.

Ada juga hari-hari jalur tanjakannya sangat curam, hari di mana quiz menentukan kamu bisa maju diskusi kasus atau tidak, dan kamu tidak nyandak menjawab pertanyaan pertamanya. “Apa itu demam?” Konsulen pun mutung dan pulang =’D.

Kalau kena denda sebesar jatah makan sepekan, itu belum deg-degan karena pada bisa minta ayah di rumah atau berhemat di lain waktu. Tapi kalau kena omelan, di-judge macam-macam sampai diremehkan, itu pasti bakal mengubah moodmu seharian kan? Tapi dari situ kami belajar how to keep moving on. Masih banyak yang bisa dilakukan, masih banyak yang menunggu bantuan, yuk lah berangkat jaga! Lagipula, cerita dengan mbak-mbak perawat berbeda. Kami diajak bercanda, diajak curhat, diajak nonton drama korea di tengah jaga malam saat cukup sepi. Aku juga pernah dapat traktiran gado-gado dan bakso unyil. 😀

Sebenarnya siapa sih konsulen kami yang satu ini?

Nama beliau dr. Juliani Seto, M.Kes, Sp.A. Lulusan UGM, lulusan Teladan. Walaupun kedengarannya beliau “killer”, di satu sisi beliau baik banget. Kalau melihat beliau mungkin tidak pada menyangka beliau sudah jadi spesialis lebih dari dua belas tahun, apalagi melihat semangat anak mudanya. Walaupun beliau memarahimu habis-habisan, beliau seorang pemberi kesempatan kedua, ketiga, dan keempat. Walaupun beliau berkomentar pedas, jleb-jleb, atau rasanya seperti fitnah (waduw) tapi tahu bahwa beliau hanya mengatakan fakta yang akan ada di pikiran orang lain dan tidak bermaksud mencelakakanmu, itu cukup bagiku untuk tidak perlu menyanggahnya. Sejauh ini, justru beliaulah konsulen yang paling involved dengan koas yang pernah kutemui. Kalau residen, lumayan banyak.

Tapi ngomong-ngomong, di stase anak lah kamu akan menemui banyak guru sesungguhnya, yang memancarkan aura idealisme, perfeksionisme, dan harapan yang kuat… entah mengapa!

Dan dr. Juli adalah satu yang terkuat harapannya pada kami selaku generasi penerus. Di hari-hari laju menurun dan berbelok, beliau akan memaparkan semua alasannya berbuat sejahat kemarin-kemarin (dan besok-besok). Sambil “makan besar” atau sekedar jajan es dawet. Beliau “nge-BL” kami setiap hari, untuk menyadarkan kami betapa usaha kami ini belum apa-apa, lalu beliau akan menitipkan mimpi-mimpinya. Kami harus merasa terenyuh, mendengar perjalanan hidup beliau kok bisa jadi spesialis anak, dan kok mau kembali ke ‘desa’ Muntilan, bukannya menjadi an international doctor seperti idealisme beliau. Yah.. Mimpi itu teramat berat dokter, jujur saja. Tapi, dokter berhasil membuatku merasa berhutang banyak sekali tentang profesi ini. “Rasanya.. Apapun yang aku lakukan tidak akan cukup, hanya untuk stase anak ini pun.”

Aku juga takkan lupa, official ‘bintang’ku yang pertama (jumlah bintang adalah istilah untuk jumlah pasien yang meninggal saat seorangvdokter berjaga-ed.) Wajah pucat yang kebiruan, dengan kedua matanya terbuka tak sama, menatap kosong kepadaku. Nafasnya tiap dua detik, dengan bunyi rintih yang lama aku baru tahu, itu satu-satunya suara dari harapan dalam hatinya. Jantungnya, entah kenapa masih berdetak pelan, seakan tiba di jalan setapak sepi, tetap melangkah entah berharap bertemu siapa. Aku takkan lupa, bradycardia selamanya kegawatan!

Aku juga takkan lupa celetukan dr. Maria yang terkesan oleh kami, “kalian ini beneran masih anak-anak banget ya.” Hahaha =’D
Aku takkan lupa cerita luar biasa dr. Dian menjalani nasib residensi (padahal sudah lulus Sp.A di Kobe University) dan tipsnya untuk hilangkan kemalasan, serta tawaran darinya untuk bergabung membantu penelitian satu hari nanti.
Aku takkan lupa niat besar yang dibawa prof. Narto dibalik ringkih langkahnya saat berjalan, dengan air muka yang terlalu letih untuk menatap kami satu per satu, tapi kalau terjadi memancar kelembutan.
Aku takkan lupa pesan prof. Nartini tentang menjadi sebaik alumni, bear the name of yu ji em.
Aku takkan lupa inti pembicaraan wajib dr. Pudjo saat diskusi kasus agar kami mencoba think out of the box kehidupan kami sendiri, ke box kehidupan pasien.
Aku takkan lupa tuntutan profesionalitas yang perhatian sampai ke detil di bagian ini.
Dan aku takkan lupa doa yang mereka panjatkan di hari Jumat minggu ke-6 stase, sambil memperingati 99 tahun Prof. Ismangoen, “semoga kami bisa mengantarkan anak-anak Indonesia menjadi anak yang sehat dan menjadi penerus yang berguna bagi umat.”

Terima kasih untuk semua dokter yang murah hati membantuku dan sejawatku. Aku menamakan mereka best partner bukan hanya karena mereka panutanq. Tapi sebagai teman yang terhitung baru, Ucan dan Tania adalah yang terbaik. Bagaimana saat ada yang berseberangan pemikiran, mereka tanggapi apa adanya. Rasa penasaran dan prasangka, mereka utarakan semuanya. Bukankah itu bukan hanya tentang kepercayaan diri tapi juga ketulusan? You taught me a lot guys :”)

Buat adik koas selanjutnya, siap-siap ya:

  • Harus menguasai neores sebelum keluar ke RS jejaring.
  • Harus melatih diri menulis resep untuk tiap diagnosis, salin saja ke buku catatan, karena itu memprihatinkan saat ujian.
  • Ujiannya beuh, membuatmu akan belajar meskipun badan terasa patah-patah. Pokoknya jangan menyia-nyiakan stase anak (dan IPD) terutama in which you’ll learn all cases you’re gonna face as a GP later in life (but so soon!).
  • Akhirnya stase anak adalah salah satu stase yang paling berkesan, insyaAllah.

Banyak pelajaran pribadi lain yang tidak bisa aku ceritakan semua di sini. Tentang meminta pertolongan hanya pada Allah; tentang merelakan perubahanmu yang kau kira kemunduran tetapi Allah hendak mengajarkanmu kebaikan yang lain–keikhlasan; tentang penerimaan; tentang lecutan untuk berdakwah menyampaikan yang benar; tentang makna keluarga; tentang mensyukuri manusia dulu sehingga bisa bersyukur pada Allah; foremost, tentang ketidakberdayaan manusia.

Subhanallah bini’matihi tatimus shalihaat.

Yogyakarta, 6 April 2017

Zahrin Afina, Sp.A (Sudah pernah Anak)

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *