Refleksi Kasus Psikiatri

Categories Pengalaman
http://psychiatryadvisor.com

Bismillaah. Salah satu kegiatan dokter muda di kepaniteraan adalah mengerjakan “Refleksi Kasus” bersama pembimbing klinik setiap dua pekan sekali. Tapi maaf yang hendak saya tuliskan di sini berbeda.

Kedokteran jiwa / Ilmu kesehatan jiwa / Psikiatri

Di pekan kedua kami mulai belajar lebih dalam tentang gangguan-gangguan mental, baik dari yang “wow, ada ya yang kayak gini” karena terabaikan secara sosial oleh masyarakat sampai yang “lho ini kan gue banget” saking seringnya kita temui bahkan mungkin pada diri kita sendiri; dari yang “wow kayak gini to cara meriksanya, wow gini to diagnosisnya, wow gitu banget pengobatannya” sampai yang “nah bener kan, supaya sembuh harusnya emang didukung gitu, harusnya pola pikirnya coba diubah, harusnya dialihkan gini lebih baik.”

Kerennya dr. Tika Prasetiawati, Sp.KJ
Coba ya saya tulis sebisanya dengan sesedikit mungkin perubahaan redaksi:

“Dengan Ibu nggak ngasih tahu pasien misalnya, sama saja Ibu sendiri membuat stigma kan? Justru pasien itu harus tahu supaya pasien itu bisa aware juga. Kecewa nggak apa-apa kan Cuma sementara. Kalau pasien masih kecewa atau marah itu tanda buat kita dan pasien bahwa dia belum sembuh, belum bisa menerima keadaan dirinya.”

“Yang normal itu bukan yang nggak minum obat. Yang normal adalah yang tahu kekurangan dan kelebihan dirinya (di IKJ disebut “insight”/tilik diri-red) dan bisa produktif mengerjakan sesuatu bahkan sampai berkontribusi di masyarakat.” –kepada pasien yang malu dengan sakitnya

“Jangan membuat keputusan-keputusan besar ketika perasaan kita sedang terganggu, karena saat itu pasti pikiran kita sedang tidak jernih. Juga jangan hanya satu pihak, karena mungkin itu baru dari kacamata sendiri.” –kepada pasien bipolar yang mengutarakan ingin cerai.
“Tugas kita menggiring, bukan memberi solusi. Solusi harus dibuat oleh pasien sendiri!”

“Obat itu hanya menurunkan gejala akutnya, menstabilkan neurotransmitter di otak (something to do with serotonin and dopamine!), tapi bagaimana kalau masalah-masalah yang lebih besar datang menjadi stressor? Pasien juga butuh kita tingkatkan kapasitas mentalnya, sehingga memiliki mekanisme coping yang baik.” –menjelaskan dasar psikoterapi

“Pertama-tama kita mengedukasi dan bekerjasama dengan primary support(keluarga)-nya, tapi kalau justru itu atau lingkungan nggak bisa berubah, apa yang kita lakukan? Iya, meningkatkan kapasitas mentalnya.”

“Setiap pasien itu menarik! Satu diagnosis yang sama aja semua hal-hal selainnya bisa beda.”

Yap, yang paling berbeda adalah, beliau ingat semua nama dan sejarah hidup pasien-pasiennya. Unlike the other departments where name is only about initial and all you’ll do is treat the disease; a person with a disease.

Semua dengan pembawaan beliau yang keibuan, tapi tegas, sekaligus ceria. Dan tentunya didasari ilmu konseling yang sudah beliau kuasai dengan baik.
Psikiater keren itu adalah tipe dokter yang semua orang pasti pingin cerita masalah-masalahnya bahkan sampai yang ter-bizzare yang dipendam dalam-dalam sendirian selama bertahun-tahun. Berapa kali ya kami ikut kebagian berkah; setandan pisang, se-cup kopi instan rasa buah, atau ikut membaca puisi buatan seorang pasien.

“Kalian itu coba deh cari-cari, banyak lho komunitas di Jogja (yang berkaitan dengan gangguan jiwa tertentu dan kesehatan mental), karena kegiatan-kegiatan di sana baik yang fokusnya ke care giver-nya, konsumen (pasien)nya, atau tokohnya bermacam-macam dan bagus banget untuk terapi. Besok di area PPK 1 kalian juga bisa berdayakan masyarakat untuk jadi kader, karena kalian sebagai dokter di PPK 1 pasti banyak sekali program-programnya. Kalau dokter sudah sibuk kerja siapa yang akan bergerak kalau bukan kader?”

Tambahan pesan dari beliau, “Ibu nggak pernah takut kehilangan pasien karena bekerjasama dengan pihak lain. Kasus gangguan mental itu kan lebih banyak yang belum ketahuan, ibarat gunung es, jadi ngapain takut kehilangan pasien, rezeki itu di tangan Allah. Pasti ada terus dari Allah. Tapi kan kita berpikir bagaimana komunitas itu bisa sehat, toh nantinya akan menghemat biaya kapitasi yang untuk kalian, dan jauh lebih hemat energi.”

Koas itu tidak cuma tentang belajar hal-hal klinis, tapi juga mencari role model.

Setiap stase paling tidak akan ketemu 2 dokter pembimbing klinis, dikalikan 13 jadi 26 dokter spesialis sampai konsultan, belum lagi dokter-dokter residen yang ketemu randomly di bangsal atau saat jaga, jadi kesempatan itu bisa kita manfaatkan untuk sebanyak-banyaknya mencari role model.
Kenapa? Ya karena pilihan hidup ada banyak. Mau jadi dokter seperti apa juga banyak opsinya.

Cerita lucu:
Siang itu saat kami mendiskusikan kasus seorang ibu paruh baya dengan schizophrenia, Eva melapor “kalau yang dari saya baca dari rekam medis, awalnya karena putus cinta, dok.” Pembicaraan berlanjut sampai dr. Tika bilang, “kalau ibu nggak salah ingat, beliau itu kambuhnya selalu pas dekat-dekat lebaran, ibu juga nggak tahu, kenapa ya?”
“Soalnya takut dok, lebaran kan sering tuh ditanyain ‘kapan nikah??’..” Rangga menjawab sambil bercanda. Kami pun terbahak.
“Haha. Kalau kalian kapan nikah? Udah punya pacar belum? Zahrin? Eva? Rangga?” Timpal dr. Tika tiba-tiba, yang dijawab ‘belum’ oleh kami semua. “Duh ketahuan banget ya, jomblo detected!”
“Rangga kan tinggal mencari Cinta. Haha. Ayo kalian cari. Ibu dulu nikahnya pas koas lho..(dst)”
“Anak istri mau dikasih makan apa?”
“Ya pasti ada lah…”
“Nggak enak kalau masih dibantu orang tua.”
“Ya itu sih kesepakatan masing-masing keluarga ya.. Nggak apa-apa. Banyak juga kok pasangan yang ibu lihat kelihatannya nekat, tapi malah lancar-lancar aja, pasti makan kok, ya kan? Yang penting itu ko-mit-men… Jadi kesimpulannya, ayo cari.” Hahaha.
“Aku..nunggu dicari deh.” #galaudetected #wkwk

Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *