Qur’an Camp dan Akhlak Qur’ani

Categories Pengalaman
pic by: google

What a life-changing experience. Saya mau cerita sedikit refleksi yang saya dapatkan dalam acara ini. Bismillah..

Saya butuh uzlah. Setelah menghadapi dunia–whatever that means dan merasakan banyak perubahan dalam diri saya, setelah beberapa lama tidak muraja’ah apalagi menghafal dengan serius, setelah saya menyerahkan beberapa amanah, saat akhirnya libur datang dan Ramadhan pun di depan mata, saya tahu Allah sedang menyuruh saya beruzlah. Dan apa lagi faith booster terbaik kalau bukan fokus bermesra dengan Al-Qur’an?

Maka saya berangkat ke Qur’an Camp 2017 yang diadakan mahasiswa UNY, bekerjasama dengan Rumah Qur’an Inspirasi dan Markas Qur’an Indonesia selama tiga hari. Sesampainya di sana, tiba-tiba ada seseorang yang berlari memeluk saya. Dia dek Ratna, adik mentoring yang baru saja siangnya saya tanyakan kabarnya ke teman-temannya di rohis sekolah. “Kelas 3 sudah lama nggak masuk sekolah mbak, sudah wisuda juga kemarin.” Saat duduk makan malam, kami bersebelahan dengan seorang ukhti yang tampak sangat muda dan memperkenalkan namanya Dewi. Dek Ratna bersalaman dengannya. Tampak mereka terdiam sejenak, loading, lalu tiba-tiba girang. Ternyata bukan hanya mereka saling kenal, tapi ini adalah dek Dewi yang pernah dihubungkan ke saya untuk konsultasi sedikit masalah kesehatan. MasyaAllah, dunia terasa sempit. Inilah skenario Allah mempertemukan saya dengan adik penuh kesederhanaan yang ternyata hafidzah ini dan menginspirasi saya.

Kata Ustadz Ulinnuha al hafidz, “Mulai saat ini kita akan belajar membaca Al-Qur’an dengan baik, menghafalkannya, merenungi maknanya, dan menjadikannya akhlak.” Frasa yang terakhir ini kali ini begitu menghentak di hati saya.

Saya melihat ke sekeliling, tampak teman-teman yang dekat dengan Al-Quran di sini pribadinya tenang, menerima pemberian apapun tanpa mengeluh atau terlihat susah, semuanya terlihat indah (kalau bukan cantik). Setelah qiyamul lail delapan rakaat panjang-panjang dilanjutkan witir, saya mulai menyadari sumber kekuatan mereka. Meskipun belum bisa ikut khusyu’, di rakaat yang panjang saya belajar untuk menyerahkan hawa nafsu. Di bait-bait yang terlantun wajib setiap pagi, saya belajar menyerahkan kebosanan. Di beberapa¬†one color-shade pages yang harus diulang-ulang sepanjang hari karena tak kunjung hafal itu, kita belajar fokus dan melupakan berbagai distraksi. Maka benar saja, tidak ada yang meributkan lauk siang itu, tak ada yang¬† mengeluhkan fisiknya apalagi membicarakan fisik orang lain, tak ada yang galau di pojokan–yang ada bergerak-gerak mengikuti lantunan hafalannya. Tak ada yang sedih, tak ada yang bingung, justru hati mereka bergemuruh oleh semangat sambil terus berjalan ke satu tujuan.

Ah, selama ini mengapa kau buat ini rumit, Zah?

Al Qur’an breaks hard hearts and mends broken hearts. Bukan hanya jika memaknainya, tapi pun dengan interaksi dengannya. Bukankah akhlak Qur’ani akan membuat kita kuat dan kebiasaan Qur’ani akan membuat hidup kita jadi mudah?

Saya pun bertekad, saya akan kembali berjuang dengannya (Qur’an) dan merelakan yang lainnya.

“Menghafal Qur’an butuh pengorbanan. Mengkhususkan waktu, merelakan agenda lain, komitmen untuk serius dan nggak neko-neko. Ada sih yang neko-neko, disambi ini-itu, tapi nanti hafalnya akan lama.”

Lalu terjadilah banyak refleksi diri.

“Jangan terlalu polos ah, Zah. Awalnya berkurang qiyamul lail-mu, lalu berkurang tilawahmu, semakin panjang tidurmu, akhirnya hidup seakan begitu rumit dan hatimu berat membuka Al-Qur’an. Ini semua bukan dirimu, tapi syaitan yang ingin membuatmu berputus asa. Mari berlari lagi ke naungannya, sambut rahmat-Nya.

Tapi seperti ini, Zah. Kau kira yang terbaik adalah mengasingkan diri, padahal Allah hendak mengajarimu lebih dengan menghadirkan teman-teman seperjuangan. Bahwa Al-Qur’an harus tercermin menjadi akhlak.” Seketika saya menangis.

Sudah lama saya tidak merasakan content seperti hari ini. Perasaan ini sulit dijelaskan, tapi inilah yang terjadi bila berlama-lama bersama Al-Qur’an. Rasanya kau siap menghadapi tantangan apapun dan kau tahu kau bisa merubah akhlakmu. Mungkin semata karena kau tahu benar kau harus berbuat apa dan bersikap bagaimana setelah pedoman hidup terngiang-ngiang di kepalamu. Meski kau pun tahu itu tak instan, yang diperbaiki satu-satu dan ada banyak sekali. Tapi ini juga janji Allah, bahwa Allah akan memberikan ketenangan dan menolong tiap insan yang sibuk bersama Al-Qur’an.

Ah, saya masih menangis. Betapa saya rindu.. Betapa saya lupa. Yang paling membahagiakan dari berjuang menjadi ahlullah, penjaga Al Qur’an, bukanlah semata ayatnya yang indah ketika nada bacaanmu toh biasa saja, bukanlah banyaknya hafalan yang tercapai ketika kelebihannmu hanya pada short-term memory, melainkan akhlak yang kau perjuangkan.. Akhlak yang akan merubah hidupmu.

Ya, dalam hidup ini, masalah sebagian orang ada pada keistiqamahan, pada ujian berupa realita umat yang dibersamainya yang tak luput merubah kebiasaannya dan akhlaknya..

Bagi sebagian orang, masalahnya ada pada berjuang sendirian, pada godaan kefuturan..

Bagi sebagian orang lagi, masalahnya ada pada besarnya cita-citanya di dunia, banyaknya PR, yang membuatnya bingung prioritas, tak jarang membuatnya lupa bertanya tentang ketaatan terbaik apa yang bisa dipersembahkan jika besok kematian itu tiba, bagaimana menyelamatkan diri sendiri dulu dari siksa kubur dan api neraka.

Tapi, kenapa harus aku buat ini rumit? Semoga Al-Qur’an selalu bisa menjadi jawaban bagiku dan bagimu. Aamiin..

Yogyakarta, Mei 2017

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *