Pursuit of Justice

Categories Kisah

 

Awal Ramadhan kali ini, saya belum bisa langsung start di lintasan pacu “lomba” tilawah Qur’an sehingga saya menargetkan muraja’ah dan tadabbur Qur’an dulu. Ada satu sarana tadabbur yang langsung muncul di kepala; menonton series Umar bin Khattab (ra), oh rindunya! Kalau diingat, sudah lama saya tidak sebebas ini dalam menjalani Ramadhan. Selama S1 di kedokteran, Ramadhan selalu bertepatan dengan ujian praktek (OSCE) di akhir semester, sehingga siang dan malamnya harus disambi persiapan ujian. Tahun lalu saat sudah koas, Ramadhan banyak dihabiskan di rumah sakit, meski begitu alhamdulillah, masih Allah izinkan menyelakan i’tikaf. Ramadhan kali ini bertepatan dengan jatah liburan sebelum berangkat KKN. Jadilah saya punya waktu lebih untuk menonton ulang series ini…yang kalau tidak salah, ini menjadi kali ketiga saya menontonnya ulang, tak pernah bosan.

Tadabbur Qur’an erat kaitannya dengan Sirah Nabawiyah. Untuk mendapat makna yang lebih dalam dan lebih melekat, alangkah baiknya bila kita mengerti tempat kejadian perkara suatu ayat Al Qur’an ketika diturunkan, bukan? Dengan mengkaji kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW dan para sahabat radhiyallahu’anhum, kita dapat mengetahui (atau menyaksikan) sebab-sebab diturunkan ayat-ayat Qur’an atau asbabul nuzulnya.

Di TV series “Omar” yang tidak lain mengisahkan dakwah Rasulullah dari awal hingga akhir hidup beliau ditambah kisah hidup Abu Bakar dan Umar yang menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah, kita sungguh dibantu membayangkan kehidupan Nabi yang sangat kita cintai itu, sehingga insyaAllah kita dapat lebih meresapi makna ayat-ayat Al Qur’an dan menambah keimanan dalam hati. In such a fancy way, isn’t it? Semoga Allah membalas semua kru dibalik pembuatan TV series ini dengan kebaikan yang banyak.

“Ya Rasulullah.. Bukankah kami berada di atas kebenaran, hidup maupun mati?” Kata Umar bin Khattab segera setelah beliau masuk Islam. “Kenapa kita tidak keluar, ke hadapan Ka’bah, menyatakan keimanan kita dan menyeru orang-orang kepada agama Allah sekarang juga?”

Di sepuluh episode awal, kita diajak mempelajari pengalaman para asabiqunal awwalun, mengapa mereka memilih beriman di tengah kaum Quraisy yang menolak karena enggan tunduk dan menyerahkan kekuasaan. Sungguh, mereka yang pertama-tama beriman adalah para pencari kebenaran. Lihatlah kalimat Umar di atas, baginya kebenaran adalah sesuatu yang lebih penting dari hidup atau nyawanya sendiri. Sedangkan para pembesar Quraisy malas percaya pada ‘dongeng’ hari kiamat, hari pembalasan, hidup setelah kematian dan menganggap kesenangan, harta, prestige dan kekuasaan yang mereka miliki sekarang di dunia ini adalah yang paling penting.

Saya jadi ingat penjelasan ust. Nouman Ali Khan tentang delapan tingkatan tujuan manusia yang semakin ke atas, semakin berat jalannya, semakin harus bisa menahan rasa sakit.

  • Yang pertama, pejuang kebahagiaan (pursuit of happiness). Untuk merasakan happy sejatinya mudah; kalau bisa makan enak, bisa main game, dapat kado, disenyumin orang dll. Happiness adalah tujuan terendah karena happiness sesederhana itu dan bisa pergi/hilang dengan mudahnya.
  • Yang kedua, pejuang kekerenan (pursuit of coolness) supaya bisa diterima di sekitarnya. Ini butuh usaha lebih.
  • Yang ketiga, pejuang popularitas (pursuit of popularity) sehingga seseorang berusaha menjadi pusat perhatian, menjadi yang terbaik, guna mempertahankan status. Lebih sulit lagi.
  • Yang keempat, pejuang prestis (pursuit of prestige) yang selalu berusaha agar mereka dihubungkan dengan sesuatu yang berharga menurut penilaian orang-orang.
  • Yang kelima, pejuang kekayaan (pursuit of money). Mencari uang butuh usaha, mencari uang yang banyak apalagi, orang sampai rela tidak beristirahat. Bahkan ada orang-orang di dunia ini yang tidak peduli popularitas atau bagaimana supaya keren, tujuan mereka hanya uang karena uang adalah “indikator”nya.
  • Yang keenam, pejuang kesempurnaan (*Maaf ya translatenya. Pursuit of excellence). Orang-orang yang selalu ingin berada di atas, mereka tidak pernah puas. Mereka bukanlah membandingkan diri dengan orang lain melainkan hanya membandingkan dengan dirinya sendiri kemarin.
  • Yang ketujuh, pejuang dampak (pursuit of impact). Mereka jenis orang-orang yang tidak egois, rela mengorbankan dirinya untuk kebaikan yang lebih besar, mereka mengabdi untuk membuat perubahan.
  • Yang tertinggi, pejuang keadilan (pursuit of justice/truth). Mereka adalah jenis orang-orang setabah baja. Tidak lain, para Nabi dan Rasul. Lihatlah, ada diantara mereka yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Apa tujuan mereka? Harta, prestige, popularitas? Bahkan dampak, ada yang tak dapat. Tapi apa mereka berputus asa? Mereka paham, keadilan sejati memang tidak akan pernah dijumpai di dunia ini. Tapi dari ketujuh tujuan lainnya tadi, ini yang dapat kita contoh dari para Nabi dan salafus shalih; mereka insyaf bahwa prestige terbaik adalah dari Allah, dihubungkan sebagai hamba dari Segala Maha; Allah menilai ketaqwaan dalam hati saja, yang buahnya adalah akhlak dan usaha-usaha terbaik, senantiasa menjadi lebih baik dari hari kemarin; mereka mengubur ego dalam-dalam dan mencintai kalau kaumnya mendapat manfaat dan kebaikan, meski jika mereka harus mengusahakannya sendirian.

Begitu pula asabiqunal awwalun dan (harapannya) umat Muhammad seterusnya, karena tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelah beliau. Alangkah indah ajakannya; ajakan kepada kebenaran. Sungguh, bila diizinkan memilih, inginku mengikuti mereka saja. Hari-hari ini, dakwah terasa lebih njelimet. Para da’i seperti menggenggam bara api. Memang begitu ramalannya, menuju akhir zaman cobaan hari ini tidak akan lebih ringan dari hari kemarin.

Tapi tidak bolehkah aku rindu? Pada masa kebenaran is all that matters. Sebenarnya di hidupku ada masa di mana aku mudah sekali merubah hati, wujud dan sikap hanya karena aku tahu betul Engkau begitu dan Engkau mau aku ikut begitu. Saat semakin mengenal-Mu dan tunduk pada semua kebenaran tentang diri-Mu, aku merasa setiap newton gaya dan setiap joule energiku ada untuk-Mu dan semua yang Engkau minta. Karena rasanya adil, “memang seharusnya begitu.” Rasa ridha itu kemudian berselimut rasa cinta.

Mungkin hari-hari ini kebenaran telah ditutupi oleh berlapis-lapis tabir kerusakan. Tapi mungkin justru pengingat bagi orang-orang yang memegang kebenaran untuk selalu memperjuangkannya baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Membimbing hati dan jiwa-jiwa dehaga yang mungkin akan sadar bahwa selama ini meminum air laut yang asin dan membuatnya semakin dehaga.

Tapi ya Rabb, kalau boleh mengadu di sini.. Kami sendiri berada di tengah samudra ujian dan rasanya setiap debur ombak mengajukan tanya yang banyak kami belum bisa menjawabnya. Sehingga rasa adil tadi bisa saja terlupa oleh kami, ridha hilang, bila tanpa pengingat-pengingat akan luasnya ilmu-Mu, betapa adilnya Engkau dibalik semua ini. Ya Rabb kami.. Bimbinglah kami untuk semakin ma’rifat dengan-Mu, karena itulah tujuan semua ilmu kami.

Yogyakarta, Mei 2017

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *