PRIMUM NON NOCERE

Categories Kisah

Katanya, di hidup yang singkat ini, kita tak boleh berhenti mencoba hanya karena takut gagal. Di dunia yang penuh sandiwara ini, kita memang tak perlu takut gagal, karena hal apa pun itu bisa berubah, termasuk kegagalan yang akan silih berganti dengan kesuksesan, orang-orang yang suka menghina kita akhirnya dapat berbalik menjadi pengikut, dan seterusnya. Di ladang beramal ini, kita juga berorientasi balasan yang sudah pasti disimpankan-Nya atas setiap proses, sehingga janganlah menunda kebaikan karena mengkhawatirkan hasilnya. Jangan takut gagal. Kegagalan adalah sahabat para pemimpi, dijumpai setiap pejuang, dijalani oleh setiap pemenang, dilewati setiap manusia.

Saya pun yakin itu, insyaAllah. Tapi, kali ini saya ingin bisa menjawab pertanyaan berikutnya, yang diajukan pula oleh komite etik di profesi yang sedang saya coba jalani; bagaimana kalau kegagalan itu akan berpengaruh pada kehidupan manusia lain, bahkan nyawa banyak orang?

Prinsip “Primum Non Nocere” yang berarti “Firstly, do no harm” bagi saya bukan hanya dasar hukum di bidang etika kedokteran apalagi sekedar suatu ungkapan. Sebagai seorang yang berlatar individualis dan memiliki ego yang tinggi, prinsip ini kemudian menyadarkan saya tentang suatu tanggung jawab besar yang harus saya emban, seolah-olah ada pedang tajam yang ditancapkan ke hati yang membuat saya tak mampu berkutik selain melaksanakan tanggung jawab tersebut atau menolaknya sejak awal.

Ya, setelah menyaksikan sendiri bagaimana akibatnya jika seorang dokter teledor atau kurang bertanggung jawab, akhir-akhir ini juga merasakan sulitnya belajar menyetir mobil yang harus mode defensif, saya menjadi penakut. Sebelum saya gagal dan mencelakakan seseorang, apa tidak sebaiknya saya mundur? Karena saya rasa, saya tidak akan memaafkan diri saya jika sampai hal itu terjadi. Mungkin berbeda dengan sebagian orang yang bisa memakluminya sebagai proses pembelajaran, saya merasa saya harusnya membayar qisas atau ganti rugi; bagaimana dengan nyawa?

Mungkin ketakutan saya ini karena kurangnya ilmu, misalnya ilmu fikih kedokteran. Bahwa dokter yang sudah berusaha semampunya sesuai kompetensinya, dengan komunikasi yang baik tentunya, tidak akan dituntut karena hasilnya. Dokter tak berkuasa atas takdir kesembuhan dan kematian, dokter hanya tenaga bantu, pelengkap ikhtiar.

Tapi sepertinya, alasan sebenarnya dari ketakutan saya ini adalah ke-tidak bersiap-an. Saya sadar selama ini saya kurang sungguh-sungguh dalam berbekal, maka Allah menegur saya. Tiga kali, termasuk di KKN kemarin. Saya sedih, harus sampai tiga kali. Saya jadi bertanya-tanya kenapa begitu sulit untuk menumbuhkan tanggung jawab. Alhamdulillah kali ini saya menemukan jawabannya. Selain masalah ego, ada satu masalah lagi yang saling berhubungan; adalah saya yang selalu merasa cukup, merasa sudah pintar. Sepertinya, saya merasa sudah sering diberi tanggung jawab pada pekerjaan-pekerjaan lain yang tak kalah besarnya, sehingga enggan memikul tanggung jawab ini, kalau bukan karena merasa masih perlu banyak belajar. Dari kedokteran dan ilmu permobilan ini saya kemudian insyaf, bahwa untuk hidup mulia dengan menjadi yang paling bermanfaat bagi manusia, kita tidak akan pernah cukup belajarnya. Di luar sana, ada teramat luas ilmu yang bermanfaat untuk manusia, yang seringkali mahal biayanya dan butuh perjuangan serta pengorbanan.

Huh, saya tetap menangis. Saya sejujurnya belum yakin bisa berubah atau tidak, mengingat padatnya agenda sehari-hari sekedar untuk meluangkan satu jam membaca textbook dan setengah jam berlatih menyetir. Manajemen waktu saya buruk, memori saya tak begitu kuat, saya mudah grogi dan teledor. Maka saya hanya mampu berdoa, untuk sekarang. Allah, berilah kapasitas. Saya pasrah tentang masa depan, saya bersyukur diberi ujian, maka tolong kuatkan pundak saya, beri saya kemampuan, jangan lagi ada kelemahan yang fatal. Allah, terimalah taubat hamba-Mu yang fakir ini, semoga ada harapan yang akan menjadi obat setelah fase jumudnya. *Tjupuh banget ya saya pelajaran sederhana ini saja lama menyadarinya 😀

Code Blue Season 3. by google

Ps: Dorama ini bersejarah bagi saya. Karena menontonnya, saya terinspirasi masuk kedokteran untuk pertama kalinya. Setelah ‘jebakan’ tujuh tahun yang lalu itu, drama ini muncul season barunya. Kini mereka kembali membantu menjawab, ketika Shiraishi-sensei, seorang konsulen ER berkata “Aku pun setiap hari merasa, aku ini tidak cocok jadi dokter.”

Yogyakarta, Agustus 2017

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *