Optimalisasi Ramadhan Bagi Ibu Bayi dan Batita

Categories Tips & Trik

[Materi Kulwap “Mengoptimalkan Ramadhan untuk Ibu Bayi dan Batita” bersama Teh Karina Hakman (@karinahakman)]

Bismillah… Assalamualaikum wr wb Sahabat shalihah semuanya… ☺

Alhamdulillah, Allah telah sampaikan kita pada hampir pertengahan Ramadhan.

Ramadhan hadir dengan segala kemuliaannya. Di bulan ini, Allah memberikan kesempatan bagi kita, agar terhapus seluruh dosa, sekalipun ia terjadi di masa lampau yang takkan pernah bisa kita ulangi kembali.

Ramadhan hadir dengan berbagai limpahan pahala. Segala amal shaleh dapat diganjar dengan berlipat-lipat. Shalat sunnah dapat berbuah pahala shalat wajib, puasa Ramadhan yang dijalani dengan iman dan ihtisab dapat menjadi sebab kita mendapat syafaat.

Lalu, apa kabar para ibu yang memiliki bayi dan batita?

Bismillah.. Sahabat shalihah…
Ketika kita memilih utk memiliki anak, maka kita ibarat membeli sepaket komplit:
• hak dan kewajiban,
• kesenangan dan tanggung jawab
• pahala dan juga amanah pendidikan.

Maka, ketika ujian tantangan tanggung jawab bertambah seiring dengan hadirnya anak, hal itu adalah sesuatu yang niscaya.
Lalu bagaimana cara kita agar tetap bisa optimal selama Ramadhan ini?

Saya bukan ustadzah, maka yang bisa saya bagikan di sini adalah sebatas apa yang saya pelajari, baik dari nasehat orang lain maupun dari pengalaman pribadi. ☺

Saya akan dengan senang hati menerima sharing dari rekan2 siapa tahu ada yang punya tips and tricks dlm menjalani Ramadhan bersama bayi dan batita. Berikut yang bisa saya sharing-kan. Semoga bermanfaat.

[Pertama]
Penuhilah hati kita dengan rasa syukur akan peran kita sebagai ibu, dengan berbagai dinamika-nya. 👶

• Sahabat shalihah.. Kehadiran anak memang menguras waktu dan perhatian, termasuk di bulan Ramadhan. Ingin tilawah sebelum subuh, ternyata bayi pun ikut bangun. Ingin tilawah di siang hari, ternyata sulit khusyuk karena mengurusi batita sembari memperhatikan bayi. Tak terasa sudah menjelang maghrib lagi, sudah harus mempersiapkan berbuka (itupun ala kadarnya, cari yang mudah2 saja), setelah itu isya. Tarawih pun tak dapat merasakan ketenangan di masjid, bawa anak 2 tahun itu bikin deg-degan, sementara di rumah pun tak jauh beda. Dan setelah malam, inilah waktu untuk meluruskan tulang, merenggangkan otot-otot yang telah dipakai seharian. Kita lelah.

• Namun satu hal yang jangan sampai kita lupakan, dibalik kesulitan itu, Allah telah berikan para Ibu kesempatan untuk meraih pahala yang luar biasa.
Setiap aktivitas yang kita lakukan dalam membersamai anak, adalah sarana menanam shadaqah jariyah sepanjang hayat bahkan sampai ke akhirat.

• Pahala puasa memang tanpa batas, karena puasa adalah milik Allah dan Allah sendirilah yang akan membalasnya.

Sejauh yang saya cari, belum ada hadits terpercaya mengenai pahala spesifik ibu hamil, ibu menyusui, ibu pendamping batita yang lari ke sana kemari.

Namun dari peran sebagai ibulah, kita dididik untuk menjadi seorang yang penuh dalam kesabaran, yang dengan kesabaran itulah kita berkesempatan untuk memperoleh pahala tanpa batas.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
(Lihat QS. Az Zumar: 10)

• Kemudian, bersyukurlah ketika skrg masih mendapati anak2 yang masih di usia bayi dan batita.
Ketika cita2 kita adalah
1) menanam shadaqah jariyah dari anak yg shaleh,
2) memupuk sabar dalam ketaatan

Maka inilah masa2 emas yg tdk akan terulang.

• Kenapa?
Karena di masa pra baligh lah mereka masih mudah untuk kita bentuk, kita didik, kita tanamkan apapun yang kita inginkan. ☺

• Coba saja perhatikan anak2 bayi. Mereka belum bisa melakukan apapun. Kitalah yang men-setting apa yang mereka dengar, mereka lihat, mereka rasakan, tentunya dengan seizin Allah.

• Lihatlah anak2 batita kita, lihatlah semangat belajarnya yg begitu tinggi. Daya tiru yang luar biasa cepat berdasarkan apa yg mereka dengar, lihat, dan rasa. Hatinya yg masih bersih mmbuatnya cepat percaya dan dekat. Coba bina saja hubungan baik denga mereka, apapun yg kita sampaikan, insyaAllah mereka akan percaya dan mengikutinya.

• Masa2 ini, blm ada teman2 sekolah yg mempengaruhi. Ia pun blm bisa menyalakan video game-medsos+tv sendiri, pergi ke luar sendiri, mengambil brbagai keputusan sendiri. MasyaAllah..

• Maka ini adalah masa-masa emas di mana kita bisa memulai membangun cita2 ingin mendidik anak kita seperti apa. Bersyukurlah kita hadir saat ini.

• Adakah kita ingin mereka berakhlak karimah, hafizh hafizhah, cerdas, kuat, sehat, dan seterusnya? Maka alhamdulilah, di usianya yg masih muda inilah, kesempatan menanam itu Allah mudahkan sebebas-bebasnya.

[Kedua]
Mulailah dengan yang mudah, yang sanggup, yang penting dimulai dulu.

Jalanilah Ramadhan dengan hati yang optimis – gembira – semangat.

Jangan dulu memusingkan ketidakmampuan kita melakukan hal-hal yang sulit secara waktu dan tenaga dan belum biasa. Mulailah dari yang mudah2 dan sederhana.

Bagi saya pribadi, dari berbagai amal shaleh di bulan Ramadhan ini, setidaknya ada 3 amalan yang sangat sederhana bagi kita jika ingin melakukan:
1) Dzikrullah
2) Memberi makan orang puasa
3) Doa

InsyaAllah kita bahas satu2 yah…

1) Bagi kita para Ibu.

• Dzikir adalah pendidikan bagi diri dan juga pendidikan untuk anak.

• Dzikir itu bisa kita lafalkan dengan suara lirih (nyaris tak terdengar) ataupun dengan suara yang lebih kuat agar didengar anak. Namun yang manapun itu, keduanya diharapkan akan menurunkan ketenangan dari sisi Allah bagi kita dan anak2 kita. Kebayang nggak kalau keseharian kita diisi dengan dzikir.

• Ketika lelah, kita mengucap

“Laa ilaa ha illa Allah”..

Hati kita mengakui bahwa segala kelelahan ini adalah wujud kehambaan kita padaNya, sekalipun lelah itu hadir hanya karena “urusan remeh temeh” membereskan rumah..

• Ketika anak sedang sulit dikondisikan, misal kita memperbanyak

“astaghfirullahal ‘adzhim”

duhai Rabb, ampunilah dosa2ku, janganlah karena dosa2ku engkau persulit urusan2ku, mudahkanlah ya Allah…

InsyaAllah akan membantu kita juga mengelola amarah kan?

• Ketika sedang ada masalah dengan rezeki, makanam di meja hanya ala kadarnya, jauh dari standar gizi ala dokter dan ahli nutrisi, kita ucapkan

“Alhamdulillah alhamdulillah..”

Segala puji bagi Allah… bermakna, ini adalah rezeki terbaik di sisiNya yang harus kita syukuri.

Orang2 yang disibukkan dengan alhamdulillah dan syukur, maka tak akan ada waktu baginya tuk mencari2 celah menggerutui ketetapan Allah

• Hal di atas hanya beberapa contoh saja. Namun, bisa dibayangkan betapa indahnya hari2 dan rumah yang diisi dengan dzikir untuk hati kita dan yang didengar pula oleh anak2 kita?

Bisa dibayangkan jika mereka tumbuh dalam lingkungan demikian, dan mereka pun mengikuti amalan2 itu dan dibawa sampai besar? 🙂

2) Memberi makan orang berbuka.
Selain dari fidyah yang mungkin sebagian dari kita ditunaikan, memberi makan orang berbuka adalah hal mudah lainnya. Tidak perlu harus besar2an dan banyak orang yang mgkin memakan biaya. Sesederhana memberikan seporsi makanan saja semampunya, namun sepenuh ikhlas dan harap kita letakkan di sana.

Semampunya bermakna, kita usahakan betul makanan tersebut menyenangkan utk diterima. Saya pribadi biasanya memakai standar diri saya sendiri. Kalau saya sendiri tidak suka, kenapa saya berikan kepada orang lain.

Dan percayalah, sedekah tidak dijadikan untuk membuat kita miskin.

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”
(QS. Saba’: 39).

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al Baqarah: 261)

MasyaAllah kan, ditambah dengan jika kita tidak puasa. Maka inilah saatnya memperbanyak pahal puasa kita dengan memberi buka saudara kita.

3) Doa
Kita punya niat dan keinginan yg baik, mohonkan semua yg kita butuhkan kepada Allah:
• rezeki,
• kesehatan,
• kesempatan,
• keni’matan beribadah, dan di terimaNya ibadah kita.

Termasuk, doa untuk anak2 kita.
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian”
[HR. Ahmad]

[Ketiga]
Menguatkan kualitas keikhlasan dalam setiap ibadah, insyaAllah seiring waktu kuantitas akan mengikuti.
• Sering denger kan ya?
Allah cinta pada amalan seorang hamba meski sedikit tapi kontinyu/berterusan.
• Apa sih istimewanya amalan yang berterusan?
Itulah amalan yang jauh dari bosan.
Amalan yang pelakunya mau bermujahadah bersungguh sungguh mengusahakannya terlepas apapun kondisinya.

Itulah amalan yang lahir dari cinta dan ikhlas.

Amalan semacam itu akan melahirkan kenikmatan dalam ibadah, ketagihan untuk ditambah, kerinduan bagi yang mengamalkan, dan sangat sangat disesalkan ketika terlewatkan.

Maka, di bulan Ramadhan ini, tidak mengapa jika kita mulai dari jumlah semampunya dulu meski sedikit, namun “pastikan” amalan itu kita penuhi dengan ikhlas mengharap keridhaanNya, pemaafanNya, kecintaanNya, ketaqwaan untuk hati kita

InsyaAllah niscaya, dalam keikhlasan dan kenikmatan ibadah, amalan kebaikan yang satu akan membimbing kepada amalan kebaikan berikutnya

• Maksudnya adalah, jangan sampai kita terjebak mengejar kuantitas namun secara maknawi tidak sampai ke hati. Amalan seperti ini khawatir lebih berat kepada beban nan membosankan ketimbang efeknya kepada ruhiyah dan keimanan hati.. sebagaimana org2 yang berpuasa namun tak mendapatkan apa2 kecuali lapar dan dahaga.

[Keempat]
Membangun khusyuk dalam tiap kesempatan.

Khusyuk yang bukan hanya ketika shalat dan tilawaah, tp juga ketika bermain dengan anak, ketika memasak, ketika beberes rumah.

• Apa itu Khusyu?
Ustadzah Aan Hani menjelaskan,
Secara bahasa Khusyu bermakna :
– Assukuun ( diam, tenang)
– At- Tadzallu ( merendahkan diri- kepada Allah-)

Sedang secara istilah, Tafsir Al Baghowi menukil beberapa pendapat para sahabat dan tabiin:
– Ibnu Abbas: orang2 yg Khusyu mereka adalah yg selalu tunduk dan merendahkan diri kepada Allah.
– Hasan Bashri dan Qotadah: Khusyu adalah mereka yg selalu takut kepada Allah.
– Mujahid: Khusyu adalah menundukkan hati, pandangan dan suara, di hadapan Allah, sebagaimana surat Thoha: 108
” ..dan semua suara tunduk merendah dihadapan Robb Yg Maha Pengasih, sehingga yg terdengar hanyalah bisikan”.

• Dari mana asal sifat khusyu?
Ibnu Rojab menuturkan: asal mula sifat khusyu adalah
-kelembutan
-ketenangan
-kerendahan diri dihadapan Allah
Itulah keadaan awal hati yg bisa ditumbuhi khusyu, dan apabila hati telah khusyu, maka seluruh badanpun akan khusyu.

Barangkali… khusyu sulit tumbuh di hati kita, karena tanah hati kitanya yg keras (belum lunak), rusuh, terburu2, bnyk emosi negatif ( belum tenang), dan atau barangkali msh ada sisa2 kesombongan kepada sesama makhluk, apalagi kesombongan kepada Alloh (merasa telah beramal).
Suasana hati dulu berarti yg harus di olah, utk menghilangkan kekerasan, kerusuhan, dan kesombongannya.

Dengan apa mengolahnya? Dengan istighfar dan dzikrulloh, sebanyak apa? Sebanyak2nya hingga kita menyadari keadaan diri dan menangisinya.

• Itulah kenapa, dzikir2 itupun perlu dimaknai, dengan berusaha berkenalan lenih jauh dengan Allah, mengenali penciptaan makhlukNya, memahami Asma2 Nya, Sifat2Nya, Kemuliaan, Keagungan dan KesempurnaanNya.

Barangkali…salah satu proyek ramadhon kita tahun ini adalah mendalami makna Asma2 Alloh, Sifat2Nya,dan mentafakkuri ciptaanNya hingga hati menyaksikan tanda2, keagungan Allah. Dengan merasakan hal hal itulah, setiap dzikir akan lebih bermakna. Dzikir di lisan yang diikuti oleh hati & pikiran.

[Kelima]
Pusatkan harap dan fokus pada tujuan akhir
Maksudnya, jangan terjebak dengan target amalan2 yang tidak tercapai, tapi fokus dan berharaplah kepada apa yang kita inginkan dari amalan itu.

• Apa tujuan bulan Ramadhan? Apa tujuan puasa Ramadhan?
Sederhananya, jika disimpulkan, maka setidaknya, ada 3 hal yang kita harapkan untuk capai selama bulan Ramadhan.

1) Ampunan (Maghfirah) Allah
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR.Bukhari dan Muslim)

2) Pemaafan (‘afuw) Allah
Bedanya antara ampuanan dan pemaafan adalah:
‘dalam ampunan, di akhirat nanti, kita masih akan dihadapkam pada Allah, dibacakan dosa2nya, lalu kemudian dihapuskan.
Sementara pemaafan (‘afuw) maka sepenuhnya seluruh kesalahan kita dihapuskan dalam catatan.
Kaitan antara Ramadhan dan Pemaafan bisa dilihat di hadits berikut ini;

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata,
“Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?
Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah:
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni
(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

3) Menjadi orang yang bertaqwa
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al Baqarah : 183)

• Kalau benar ketiga hal tadi adalah yang kita harapkan melalui Ramadhan ini, maka memiliki bayi dan batita insyaAllah tak akan menjadi penghalang bagi kita tuk meraihnya.

Mungkin sebagian dari kita tidak berpuasa karena nifas, hamil, atau menyusui. Mungkin sebagian kita sulit untuk melakukan tilawah berjuz2 dalam sehari atau tarawih khusyuk berjamaah di masjid.

Namun, kita memiliki peluang yang sama untuk menempa diri dengan kualitas orang bertaqwa.

Berikut adalah sebagian karakter dari orang bertaqwa tersebut.

1) Ringan dalam infaq, jauh dari marah, dan lapang hati dari marah yang disimpan.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai para muhsinin”
(QS. Ali Imran : 133-134).

Kita bisa menguatkan infaq dlm bentuk apapun dengan mengharap hal itu akan menyucikan kita dan menjadi jalan menuju taqwa.

Marah, bukankah selama ini seringkali marah-lah yang menjadi momok bagi para ibu dalam membersamai anak-anaknya? Ternyata inilah masanya. Inilah salah satu tujuan Ramadhan kita, kita ingin menjadi orang yang mampu menahan marah, terhadap siapapun.
Bahkan bukan hanya itu, namun juga menjadi orang yang hatinya lapang dari perasaan kesal ganjalan kepada saudaranya.

MasyaAllah kan.. 😊
Bisa kita bayangkan kalau kita benar-benar berusaha menjalaninya

• 2) Jauh dari kesia-siaan.
Dalam salah satu kajian tentang Ramadhan yang saya ikuti, dibahas bahwa tidak semua puasa mendapat pahala tanpa batas, menjadi syafaat, dan memperoleh ampunan masa lalu. Hanya puasa yang imaanan wah tisaaban lah yang mendapat pahala2 tersebut.

Salah satu karakteristik puasa yang demikian adalah puasa yang dijalankan dengan pelakunya menjaga dirinya dari kesia-siaaan.

Hal ini sinkron dengan ayat;
“Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman. (yakni) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang. Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia menampik dengan keras”
(QS. Al Mukminun: 1-3)

Apa saja yang termasuk sia-sia?
Apapun yang tidak memberi manfaat dan pahala bagi kita.

Termasuk, hal2 yang barangkali sangat berat untuk ditinggalkan;
Scrolling instagram yg tak berfaedah, menonton tayangan gagdet tak berfaedah, nongkrong, cuci mata, melamun, tidur berlebihan (krn malas bukan karena kebutuhan), makanan yang mubazir (sia2), pakaian harta tak terpakai yang sia2, dan seterusnya…

MasyaAllah kan.. ☺
Kebayang nggak kalau kita sedikit demi sedikit meninggalkan hal hal tersebut.

Manusia hanya punya satu rongga hati. Kalau tidak diisi oleh kebaikan, maka akan diisi oleh keburukan.

Begitupun sebaliknya maka kalau kesia-siaan kita tinggalkan, maka niscaya semakin banyak kebaikan akan kita hadirkan.

• 3) Menjaga lisan
Termasuk dalam kriteria puasa yang imaanan wah tisaaban adalah puasa yang jauh dari zuur (bohong), ghibah (membicarakan orang lain), laghwu (sia2).

Hal yg sia2 sudah dibahas di atas.
Terkait bohong, hal ini sering menggelincirkan sebagian ibu yang menganggap anaknya tidak mengerti dan menganggap dusta sebagai hal biasa.

Contoh:
“tuh lihat ada cicak ada cicak” padahal tidak ada…

“berhenti nangisnya ya, nanti dibeliin es krim” ternyata tidak dibelikan

“jangan ganggu jbu, ibu lagi kerja” padahal buka medsos nggak jelas
dst..

Orang bertaqwa adalah orang yang menjaga lisannya. Sementara orang berdusta dan ingkar janji adalah ciri orang munafik.

“Tanda orang munafik itu ada tiga : jika berkata, dia dusta; jika berjanji, dia menyelisinya; dan jika diberi amanat, dia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sementara ghibah, membicarakan orang lain, seringkali tidak disadari terjadi di lingkungan keluarga, tetangga, sambil nunggu buka, dsb bahkan sekarang kadang juga di media sosial.

Kebayang nggak kalau para ibu mampu menjaga lisannya dari hal2 seperti itu? ☺ Masyaallah .. kita optimis terhadap generasi Rabbani yg akan datang.

[Keenam]
Dengan berbagai kesibukan kita, setidaknya kita berusaha untuk mengoptimalkan amalan di waktu yang utama seperti
1) Ibadah pada lailatul qadr
2) Ibadah di malam hari/1/3 malam terakhir
3) Menjelang /saat berbuka puasa
4) dst

• Sementara dari segi jenis amalan, misal meningkatkan Interaksi dengan Al Quran. Interaksi tdk terbatas dengan tilawah. Mendengarkan ceramah pun termasuk interaksi mempelajarinya. Membacakan surat pendek dinhadapan anak pun termasuk interaksi mengajarkannya.
intinya, mulailah dengan apapun yg bisa.

[Ketujuh]
Bertahap, berperingkat, berkesinambungan.

Semua yg di atas tadi, tdk mengapa dimulai dari yang mudah, namun secara bertahap ditingkatkan dan amalkan secara berterusan. Itulah yang kemudian membimbing kita pada istiqamah. Bukan hanya pada saat Ramadhan, namun juga setelahnya.

Allahua’lam bishawab. Mungkin sekian dulu yg bisa saya sampaikan. Mohon maaf utk salah kurang.

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *