New Mom #6 Menjadi Ibu yang Bahagia

Categories Pengalaman

Kenapa semua yang kuceritakan di atas itu kesulitan demi kesulitan ya? Padahal kemudahan dan kesyukuran tentu ada, silih berganti. Misalnya, Rashdan selalu dapat rezeki berupa dibebaskan biaya jasa dokter, mulai dari proses ANC di dokter kandungan, proses melahirkan dengan dokter kandungan yang lain, konsul ke DSA, frenektomi oleh dokter bedah, semua gratis. Rashdan tidak rewel sepanjang kami safar dengan 3x penerbangan. Rashdan hanya demam sehari dan tidak rewel saat imunisasi DPT yang pertama. Rashdan BAB-nya lancar meski diberi sufor dan tidak alergi. Rashdan punya yangti, yangkung, om dan tante yang semuanya sangat suka anak kecil. Rashdan punya banyak sekali tante baik hati yang memberi banyak kado yang bagus-bagus dan bermanfaat, hehe. Ibunya Rashdan juga selalu dapat bantuan di rumah. Akhirnya bisa tinggal di rumah sama ibu sendiri jadi bebas berdiskusi soal ini-itu dan lebih ter-handle, suami yang selalu mendukung, waktu luang untuk menulis. Sepuluh hari setelah suplementasi, BB Rashdan sudah naik 700g. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Masa nifas 58 hari pun berakhir, aku bisa mulai shalat. Saatnya memetik sebanyak-banyak hikmah, bermuhasabah dan bertaubat. Saatnya memohon pertolongan dengan sabar dan shalat. Saatnya memperbaiki hubungan dengan Yang Maha Kuasa.

Sejak dulu, aku tahu aku orangnya sering pesimis kalau tentang diri sendiri, bahkan sepertinya pernah ada masa mengalami gangguan mood menjadi depresif. Karenanya aku sudah antisipasi aku akan kena baby blues. Hal itu wajar, asalkan jangan berlanjut jadi PPD. Tapi, aku tak mengira kalau-kalau baby blues-ku yang sedikit berkepanjangan (tapi tidak bisa juga disebut PPD) bisa segini berpengaruh pada produksi ASI.

Memang, aku juga punya hipotesa lain, retensi plasenta. Curiga karena 1) dua bulan menyusui DBF tapi ASI belum deras/stabil, padahal dedek sudah cluster feeding berkali-kali 2) darah nifas (lochia) yang merah lebih dari 2 minggu dan suka muncul lagi beberapa hari hingga 58 hari, 3) saat melahirkan, dokter tidak melakukan eksplorasi dalam setelah plasenta terlepas. Atau anemia, padahal waktu hamil hanya mild anemia, tapi memang paska lahiran belum cek lagi. Anemia ini bisa membuat ASI sedikit atau encer (banyak foremilk), Rashdan lewat usia 10 hari baru pupnya berubah warna menjadi kuning, dari hijau gelap.

Tapi poinnya adalah, sepanjang ospek menjadi Ibu baru ini, aku sangat merasa Rashdan hadir untuk mengubahku. Secara fisik yang harus begadang, punya tangan dan pundak kuat, tahan sakit dll, maupun secara batin. Jujur, selama dua bulan kemarin aku belum benar-benar merasakan bahagianya punya momongan. Aku ingat di minggu pertama aku bilang, “ummi dan adik-adik kalau lihat Rashdan gemes banget ya? Aku ini kalau lihat Rashdan masih 10% lucu dan 90% perjuangan.” Ternyata, hasilnya aku lupa untuk menjadi Ibu yang bahagia.

Aku juga sadar rangkaian ujian melahirkan dan merawat bayi ternyata membuatku menjadi seorang yang penakut. Penakut dan rapuh sekali. Aku sempat berpikir, “yang mengaku siap jadi ibu, apa kita ini siap juga kalau dititipi anak yang spesial?” Aku tidak bisa membayangkan jadi orang tua yang bayinya lahir dengan penyakit, harus terus-terusan dirawat. Aku tidak bisa membayangkan jadi Ibu-ibu di Yaman sana, melihat bayinya sangat kurus kurang makan dan pasti rewel sepanjang hari. Aku tidak bisa membayangkan buah hatiku harus diambil di usia belia. Aku juga tidak bisa membayangkan kalau harus jadi single parent dan merawat bayi. Saat ingat para ibu yang Allah uji lebih itu, aku buru-buru mendoakan. MasyaAllah. Mungkin ini tanda betapa aku kurang bersyukur. Betapa aku, mungkin, telah melupakan kebersamaan Allah.

“Only when the central point of your life is Allah, your greatest and deepest devotion and love is for Allah, only then you will have healthy relationship with the creation. Only if you put everything in the right compartments of the heart. Because even if these halal things are loved with the wrong way, will cause much damage to yourself and others.” (Yasmin Mogahed)

Rashdan sayang, Ibu masih suka egois ya Nak. Ibu suka lupa mengganti diaper di tengah malam, Ibu kadang masih kesal kalau Rashdan tidak jadi tidur. Ibu ini mau mencoba produktif sedikit, sehingga lebih mudah menyerah dan mengambil dot, apalagi memang Ibu takut kalau Rashdan sudah marah gerak-gerak jadi gumoh banyak sekali, ASI yang susah-susah diminum itu keluar semua. Usaha ibu juga masih belum 100%, ibu kadang nyerah karena tidak ada yang bantu, ibu tidak bisa melakukanya sendirian. Tapi, Ibu tidak berhenti berdoa agar Rashdan bisa mendapatkan yang terbaik dan agar Allah menjaga orientasi Ibu. Sampai pada titik ini, Ibu rasanya mau melakukan apapun, mau tunduk setunduk-tunduknya pada Allah, nurut pada ayah, minta maaf pada orang tua ibu, agar Allah ijabah Rashdan bisa full ASI lagi dan terus menyusu sama Ibu hingga dua tahun. Tapi.. kita juga tidak boleh lupa konsep rezeki, Nak. Allah memberi rezeki tanpa perhitungan pada siapa yang Dia kehendaki, dan membatasinya pada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan bahwa tugas ibu masih panjang… Ibu tidak boleh terpuruk karena satu hal saja, Ibu harus belajar jadi madrasatul ‘ula, mendidikmu dan jadi teladan. Ibu tidak mau jadi diri ibu yang kemarin lagi, yang sering mengeluh dan menangis seakan-akan putus asa, menjadi beban orang-orang sekitar ibu. Sekarang ibu sudah belajar bagaimana berharap dengan disertai prasangka baik, optimisme. Allah pasti menolong kita.. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Ibu tidak boleh tegang lagi, Ibu harus bahagia. Saat harus memberimu sufor dengan dot pun, ibu akan menatap matamu lekat-lekat sambil tersenyum, kita pun sadar yang lebih penting; “Allahum maa baariklanaa fii maa razaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar.”

Rashdan sayang, yang sekarang sudah pintar sekali mengoceh, murah senyum, sungguh hati ibu akhirnya terenyuh. Bersyukur sekali Rashdan hadir di sini, mengubah jalan hidup ibu atas izin-Nya. Bersyukur, penuh hati dengan syukur, juga agar Allah tambah nikmat-Nya. Ibu bersyukur untuk tiap senyummu yang menghibur hati, tiap sehatmu. Betapa sekarang Ibu tahu bahwa di dunia ini setiap hari atau bahkan tiap detiknya ada yang mengharapkan keajaiban dari Allah, dan ibu tahu rasanya.

Ibu juga jadi tahu, akan banyak rintangan lainnya di depan. Dari urusan MPASI, dst hingga mungkin engkau remaja. Tapi Ibu mulai terdidik untuk tidak manja, Ibu ingin jadi lebih kuat dalam rumah kecil kita nantinya. Lagipula, bagaimanapun ibu merasa sudah mengambil jalan pintas saat ini. Jalan pintas memang tidak berarti buruk, tapi ibu jadi merasa berhutang padamu. Sebenarnya, pun sejak engkau kehausan di hari pertama hidupmu dan bertahan, Ibu sudah berjanji untuk lebih kuat dan sabar juga.

“Elah, gitu doang.” Iya ya hehe, tapi karena itu aku tahu, dengan menjadi ibu hal-hal sederhana bisa membuatku bertransformasi, atas izin-Nya. Semoga aku bisa menginternalisasikan semua yang kutulis ini, berusaha jadi lebih baik lagi. Aamiin..

“Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu, dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” QS Ad Dhuha : 1-11

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *