New Mom #4 Realita

Categories Pengalaman

Sampai di Sorowako, keadaan belum banyak berubah. Saat harus begadang dan menggendong adek, aku masih suka ingin menangis. Tapi ada jarak yang harus dibayar dengan doa. Aku terdorong menjadi lebih kuat di sini, jangan membuat abang khawatir lagi.

Sepekan berjalan, alhamdulillah aku makan enak terus, banyak teman dari tamu-tamu ummi, tidak bosan dan kesepian. Meski ternyata ummi abi tidak bisa banyak membantu, karena Rashdan sama sekali tidak mau digendong kalau tidak sambil menyusu. Saat paket breast pump-ku datang, aku mulai rutin pompa tiap 2 jam dan mengusahakan sesi power pumping. Dengan hasil pompa yang sedikit, 40-70 ml, aku coba berbagai media yang sudah kusiapkan. Cup feeder, pipet tetes, botol sendok dan NGT+spuit. NGT lumayan berhasil karena anti tumpah, yang lainnya ummi abi yang membantu protes duluan. Apalagi, sempat dicoba dengan dot Rashdan ternyata semangat sekali. Tahunya, Rashdan makin gelisah saat menyusu. Tahulah aku, dia gelisah saat LDR berhenti. Rashdan ini, maunya minum yang alirannya deras. Mau pakai NGT terus agak susah menjaga kebersihannya. Saat dia sudah terlanjur lapar dan marah, mengenyot pun tak mau. Akhirnya aku menyerah dan memakaikan dot.

Ummi masih bersikeras mendorongku memberi sufor dengan berbagai dalil. Begitu pula setiap tamu yang juga memberi anaknya sufor, “jarang yang bisa tahan kalau anaknya laki-laki, memang kuat sekali menyusunya.” Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan status ASIX atau omongan orang nantinya. Bahkan yang berkata, “anaknya dokter kok..” Dibalik setiap judgement ada ibu yang berjuang. Kenapa aku buat ini sulit sementara banyak ibu-ibu lain yang menjalani dan memilih dengan ringan saja?

Karena ini ibadah seorang ibu, perintah Allah di dalam al-Qur’an. Aku juga tahu benar manfaat ASIX yang bukan hanya untuk bayi tapi juga untuk ibunya. Aku tidak rela Rashdan dan aku kehilangan itu. Aku sering membujuk Rashdan, “dek mau bersabar ga, insyaAllah ibu usahakan selalu happy sampai lama-lama nanti ASInya deras.” Tapi kadang dia benar-benar tidak sabar. Akhirnya setelah ditahan-tahan sepekan, aku menangis lagi dan curhat ke abang, apalagi dalam memutuskan hal ini kami perlu bersepakat. Aku bilang, aku tak sanggup. Setiap aku berhasil membangun motivasi, dipatahkan oleh tangisan Rashdan. Aku pun ikut stress. Kupikir tidak baik seperti ini terus, untukku dan terutama untuk perkembangan emosi dedek dan tentu pertumbuhannya. Harus ada ikhtiar yang dilakukan. Ada banyak risiko di belakang, kami juga belum tahu apakah sufor benar-benar bisa jadi solusi. Tapi insyaAllah, Allah siapkan lagi jalan ke depannya, untuk setiap kesulitan. Ya, yang penting berikhtiar. Kalau ke depannya aku ada rasa menyesal, gagal menjadi ibu dsb, insyaAllah itu tidak lebih penting dari senyuman Rashdan, kenyang dan sehatnya, aamiin.

Karena ternyata ASIP tambahan juga masih sedikit dan Rashdan masih rewel kelaparan, BB nya juga hanya naik 500 g, tanggal 10 April, H-2 sebelum genap usianya 2 bulan kami berikan Rashdan sufor, seperlunya. Akhirnya. MasyaAllah, sejak itu Rashdan jauh lebih anteng. Ia bisa bermain dengan ceria bersama yangti dan yangkung selama beberapa waktu sebelum akhirnya menangis lagi karena haus atau mengantuk, ia juga bisa tidur dengan mudah. “Kemarin-kemarin Ummi gak pernah lihat Rashdan anteng selama ini, ummi juga kasihan sekali lihat kamu harus gendong-gendong dan menyusui gak berhenti sepanjang hari.”

Di grup online, ada yang BB anaknya juga naik sedikit selama 2 bulan dan tidak panik, karena anaknya tidak rewel. Ada yang disuruh memberi tambahan ASIP 60 ml tiap 3 jam, tapi aku belum bisa menghasilkan sebanyak itu di waktu sesering itu. Rashdan paling bisa tidur lelap jika dalam gendongan, sehingga aku tak bisa pumping sesering itu. Lagipula, seringkali, susah menyesuaikan waktunya agar Rashdan tetap mau menyusu setelah dipompa, karena aliran sudah tidak deras lagi.

Repot ya, perjuangan mengASIhi? Alhamdulillah, aku dapat dukungan dari suami yang selalu mengingatkan untuk kuat, mengingatkan bahwa ini ibadah. Enam bulan usia Rashdan yang tidak bisa diulang.

Bayangkan bunda Hajar berjuang mencari air untuk bayinya Nabi Ismail as, ia lari diantara bukit Safa-Marwah sebanyak 7x. Mungkin, kondisinya lebih panik lagi, sebab ia tinggalkan bayinya sendirian dan kemungkinan memperoleh air sedikit sekali. Tapi seperti yang dikatakannya kepada ayahanda Ibrahim as, “kalau ini perintah Allah, sekali-kali Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.” Ia tetap berikhtiar, ia tunjukkan kesungguhannya.

Aku juga, sedih sekali belum bisa mengASIhi dengan baik. Sudah coba ini-itu belum berhasil, tidak tahu nanti solusinya bagaimana. Jika sekarang harus kuberi tambahan sufor, aku ingin tetap rutin pumping sampai produksi ASI-ku stabil sehingga bisa kuusahakan relaktasi. Ya, aku masih berharap Rashdan bisa kembali full ASI. Doaku, ya Rabbi, berilah Rashdan rezeki sebagaimana Engkau beri nabi Ismail as rezeki.. mata air zam-zam, yang tidak disangka-sangka.

Benar saja, saat posyandu di usia 2 bulan, kader-kader posyandu semua bilang cukup berikan ASI meskipun BBnya di bulan ke-2 hanya naik 600 g (target min 900 g). Aku jadi malas jujur ke sebagian ibu-ibu yang tanya, “sudahlah ga usah bilang-bilang, kita yang paling tahu kondisinya.” Kata ummi. Yap, akhirnya setelah dilanda kebingungan karena DSA bilang gini, konselor laktasi bilang gitu, ibu-ibu komen apa, teori bagaimana, aku belajar bahwa Ibu akan selalu berhadapan dengan REALITA. Solusi yang dilakukan mungkin bukan yang terbaik, kupikir kalau ibu-ibu yang lain mungkin ya ada yang lebih tangguh dariku dan menjalaninya dengan berbeda. Tapi, inilah ‘ijtihad’ kami sebagai orang tua dengan banyak hikmah yang Allah berikan.

(Bersambung)

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *