New Mom #4 Difficult Baby

Categories Pengalaman

“Bayi itu memang ada yang anteng, ada yang rewel. Ummi dulu anak pertama, kamu, rewel sekali anaknya. Setelah itu anak kedua dst anteng semua.” Aku mencoba mencerna tapi tak bisa percaya 100%. Instingku selalu bilang ini ada yang salah.

Ibu mertuaku yang sangat baik hati selalu memasakkan sayur dari sayuran hijau, daun katuk, kacang hijau, buah-buahan, daging, telur, ikan dst. Sejak hamil makananku cukup terjamin gizinya. Dari klinik aku juga dapat ekstrak daun katuk. Aku banyak minum air putih. Sudah ditambah booster Mama Soya, kacang mete, madu, sari kurma, dll. Di sela-sela keriweuhan aku sempatkan kompres hangat dan pijat laktasi sebisanya. 2 minggu awal Rashdan menyusu tiap 2-3 jam selama 20-40 menit dan bisa tidur lama, hanya aku yang kesakitan tiap menyusui. Puting lecet bisa saja karena kering dan itu akan sembuh dalam seminggu, tapi kalau agak lama seperti ini aku agak curiga tongue tie yang jadi penyebabnya. Masuk minggu ketiga Rashdan mulai rewel sekali. Meski puting kiri yang lecet sudah sembuh dan yang kanan juga mendingan, Rashdan mulai gelisah saat menyusu, suka melepas-pasang dan menangis seperti marah. Selain itu, dia bisa menyusu hingga berjam-jam lamanya. Seringkali kalau aku menemukan metode untuk menidurkannya, esoknya tidak berlaku lagi. Aku bertahan beberapa waktu, tapi kadang menangis bingung. Pernah Ibu mendapatiku menangis suatu siang, lalu menawarkan sufor sebagai tambahan. “Mungkin ASI-nya sedikit, kasihan juga mbak Zahrin kecapekan.” Tapi aku kekeuh. Sebab Rashdan BAK > 6x/hari, BAB juga sering dan warnanya kuning cerah (ciri cukup hindmilk), kalau tuntas menyusu bisa tidur walaupun semakin jarang seperti itu. Sayangnya aku belum bisa power pumping atau menyiapkan ASIP tambahan karena puting masih sakit, tidak kuat saat dipompa (atau tidak cocok dengan jenis pompanya), jadi tidak benar-benar tahu volume ASI juga. Mencari donor ASI? Tentu masih sulit di sini. Setiap aku konsul di support group, teman dan konselor, semua menduga Rashdan sedang dalam masa growth spurt sehingga terjadi cluster feeding, tapi kemudian ini terjadi berminggu-minggu lamanya.

Dua kali bertemu DSA, mereka lihat latch on Rashdan sudah bagus. Aku juga sudah mencoba berbagai posisi saat menyusui, yang paling tidak membuat sakit itu posisi craddle dan yang paling tidak bisa adalah posisi side-lying, Rashdan gelisah sekali, akupun akan lebih kesakitan karena dilepas-pasang terus putingnya. Jadi apa yang salah ya? Apa karena aku sering menangis jadi ASI sedikit yang keluar (sedikit LDR)? Waktu tahu BB Rashdan naiknya kurang, ummi komentar, “coba kamu nggak nangis terus mungkin udah satu kilo naiknya.” Mungkin ummi kurang paham duduk persoalannya, tapi ummi ada benarnya. Maka itulah juga harapan kami saat memutuskan pulang ke Sorowako, jika aku bisa lebih rileks dan lebih mudah segala urusannya, semoga bisa mem-boost ASI.

Sebelumnya kami transit sepekan di Jogja-Solo, bolak-balik. Melihat rewelnya Rashdan dan keriweuhanku, ummi, abi, bulik dan tamu saat itu berkomentar bahwa bayiku lapar dan memaksa memberi sufor tambahan. Aku menangis, aku bilang masih mau coba beli pompa merk lain, ketemu konselor laktasi langsung di Jogja dan konsul ke DSA. Di Solo sempat bertemu DSA yang berkata “Iya sambung sufor saja, BBnya nggak cukup, bayimu lapar. Ada tipe Ibu yang sekalipun makan banyak kayaknya larinya ke badan Ibunya, bukan ke ASI, beda metabolismenya.. Kalau takut alergi susu sapi, ada SGM soya. Takut bingung puting, pakai sendok.” Saat itu Rashdan usia 41 hari dan Bbnya hanya bertambah 1 ons selama 10 hari (dari terakhir nimbang). Sampai di Jogja, aku sewa Spectra 9+ untuk mencobanya, selain itu konsul ke Sanggar ASI. MasyaAllah, dapat banyak dukungan dan bimbingan. Aku diajari cara-cara memberi ASIP (kalau memang mau diberi tambahan karena BB kurang), disadarkan tentang afirmasi positif. Aku harus yakin, percaya diri, bahwa ASI-ku insyaAllah cukup, bahwa PD kanan dan kiri sama saja meskipun dengan kondisi puting berbeda. Sepulang dari sana aku lebih rileks. Sebenarnya aku sering melakukannya, setiap menyusui aku ajak Rashdan berdoa, “ya Rahman ya Rahim, ya Hayyul ya Qayyum, ya Gaffar, ya Fattah, ya Razaq, ya Wahab.. berikanlah rezeki berupa ASI, semoga ASI ibu selalu cukup untuk Rashdan.. menyehatkan, Rashdan bisa tumbuh besar dan kuat. Aamiin.” Itu minimal, terinspirasi dari mb Sanya, katanya kita harus banyak berdoa saat menyusui. Aku juga sering afirmasi Rashdan, supaya sabar, anteng, kuat. Kata konselor aku juga perlu afirmasi diriku sendiri “aku bisa, aku kuat, aku rileks.”

Sebenarnya tentang rewel ini pernah dicari pendekatan lain. Saat aku curhat ke mbak Ayas, tiba-tiba beliau tanya aku menggendong pakai apa. Aku mengaku jarang menggendong Rashdan karena minggu-minggu awal dadaku sakit jadi kesulitan menggendongnya, kalau terpaksa kugendong ia setinggi pinggang dengan tangan. “Sebaiknya pakai alat gendong yang nyaman, karena mungkin Rashdan lagi ingin dekat sama umminya, kalau nggak nanti capek.” Kata mbak Ayas lagi, membuatku sadar menggendong itu bonding. Aku juga tersadar agar jangan sampai aku sibuk dengan perasaanku sendiri dan lupa memberi kasih sayang sepenuhnya untuk bayiku. Jangan sampai, Rashdan rewel karena aku sendiri sedih terus, karena aku tidak bisa transfer energi positif padanya. Alhamdulillah, awalnya cara itu membantu. Kalau gelisah di PD kanan, aku pindah ke PD kiri, kalau masih gelisah lagi, aku gendong sambil menyusui, meski tidak selalu berhasil, Rashdan tidak jadi marah dan lebih cepat tidur. Tapi nanti kami tahu itu bukan solusi permasalahan. Mommy Golda, seorang baby wearing consultant bilang saat aku konsul via DM instagram, “sepertinya bukan itu yang diinginkan bayi ibu. Bayi kalau kenyang akan tidur dan melepas puting sendiri, baru kita bisa menggendong atau menaruhnya. Coba ibu fokus di ASI dulu sehari, dst.”

Pernah juga konsul ke teman-teman lain, ada yang mengusulkan memutar murattal saat tidur dan jangan lupa dzikir pagi dan petang bersama bayi. Alhamdulillah dari awal sudah kami rutinkan. Tapi lama-lama tidak berpengaruh, kami pun yakin ada faktor lain.

Tiba hari perpisahan dengan abang yang akan menyusul ke Sorowako sebulan lagi. Sebenarnya masih berat rasanya, diam-diam setiap hari akumemikirkan abang. Aku juga takut tidak kuat menghadapi semuanya sendiri. Saat aku terpuruk, siapa yang akan memelukku dan menenangkanku, pikirku. Hati ibu mana yang tega melihat bayinya kurang makan atau BB seret. Kutangisi sepanjang hari sebab tak punya solusi selain tetap menyusui.
Tapi, semua harus mulai berubah di sini.

Aku menyadari bahwa Allah sedang mengujiku untuk naik beberapa level sekaligus. Agar lebih sabar beberapa level, lebih bersyukur beberapa level, lebih dekat beberapa level. Hampir-hampir rasanya tak mampu. Sungguh di luar kapasitas hatiku.
Tapi, melihat kesabaran abang sebagai partner membuatku urung menyerah; ada kelapangan dada yang harus disyukuri. Melihat dek Rashdan sendiri yang tetap kuat menghadapi apapun ketidaknyamanannya membuatku lebih berani; ada kepasrahan yang harus aku temani.

InsyaAllah hijrah adalah ikhtiar terbaik. InsyaAllah, LDM juga akan banyak hikmahnya untuk kami berdua saat ini.

(Bersambung)

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *