New Mom #2 Baby Blues

Categories Pengalaman

“Di dunia ini tak ada panggung untuk Ibu. Yang benar-benar layak mungkin hanya di akhirat nanti. Tak ada panggung untuk ibu. Siapa yang mau mendengar kisah perjuangannya keseluruhan? Mung\nkin karena tak ada yang mampu. Akhirnya, hal-hal yang luar biasa dirasakannya, diceritakan dengan sederhana. Hanya sesama ibu atau para calon ibu yang coba menghayati yang akan bisa mengurai kesederhanaan itu.”

Maka jika di sini aku menulisnya dengan tidak sederhana, itu untuk diriku sendiri, mungkin bisa jadi pengingat ketika nanti menghadapi kelahiran anak ke-2 dst. Pun aku menuliskannya jauh dari sempurna. Kalau teman-teman bisa mengambil manfaat juga, alhamdulillah. Peluk. Kita berjuang sama-sama.

Ps. Ini akan jadi pan-jang se-ka-li.

Rasanya jadi new mom? Kaget. Ternyata aku pede untuk nanti mendidik anak, tetapi tak ada yang mengingatkan kalau mengurus newborn akan serepot ini. Selama hamil hampir tak terpikirkan. Aku bilang pada suami, “mungkin nanti 2-4 minggu kita akan menjalani ospek ayah ibu baru” tapi tak betul-betul membayangkan akan seperti apa.

Rasanya memang tidak “merdeka” lagi, lelah bertubi-tubi. Inilah pekerjaan seorang Ibu, mengurus tubuh kecil tak berdaya non stop selama beberapa waktu. Menyusui, menidurkan, mengganti popok, memandikan, mengobati dst berulang-ulang 24/7 yang jarang bisa diwakilkan, terutama menyusui. Dengan rutinitas baru ini, aku dan setiap Ibu baru tentu berusaha menghayati peran baru kami ini.

Mengurus bayi juga penuh misteri, karena ia belum bisa berkomunikasi dan poinnya banyak sekali, mulai dari kecukupan makanan (ASI), frekuensi BAB, kesehatan kulit dll. Akhirnya rasa khawatir menyelimuti, pun meragukan diri sendiri. Saat ingin menyerah, aku coba mengingat bahwa jiwa dan tubuh kecil ini adalah titipan Allah. Kita diamanahkan untuk berikhtiar semampunya. Berat terasa itu wajar adanya, berharap jadi pemberat amal dan menghapuskan dosa-dosa.

Aku juga mencoba membayangkan masa tuaku yang mungkin Allah sampaikan pada kondisi pikun tak berdaya lagi, insyaAllah ada anak ini yang akan membantu. Bukan mengharap imbalan maksudnya, tapi bahwa sebenarnya kami memang diciptakan ada untuk satu sama lain. Kalau ingat bahwa diri ini juga mungkin berada pada kondisi tak berdaya seperti itu, alhamdulillah semangat muncul lagi. Sebab kadang kalimat “semua ibu merasakannya” terasa tumpul, belum mampu memberi motivasi.

Aku pernah dinasehati bahwa terkadang memang bonding ibu-bayi tidak muncul langsung sekuat itu, apalagi ayah-bayi ya. Nanti seiring waktu, melihat senyum yang makin menyuburkan syukur dan menghapus lelah, insyaAllah cinta akan menguat dan memampukan kita berbuat lebih lagi dan terus berkorban. Aku pun ternyata demikian, karena di awal-awal Rashdan sakit dan ada drama ini itu, kekagumanku pada karuniaNya ini tertutup kabut khawatir dan takut.

Ada banyak sekali pihak yang membantuku melewati masa-masa itu. Suami, ummi, ibu, konselor laktasi online, kenalan dokter anak online, mommies selebgram, sahabat (mb Nur, dek Nisa, mb Ayas, mb Sanya, mba2 lain yang jadi tempat konsultasi dan turut mendoakan), hingga support group online (Umida, HapPy).

Awalnya, aku tak menyangka akan melewati sekian drama. Percaya diri padahal tahu alasan kenapa para ibu baru yang lahiran anak pertama biasanya pulang ke tempat ibunya sendiri saja tidak. Sebagai dokter memang punya sedikit bekal, tapi ternyata tak sesederhana itu, tiap bayi bisa berbeda. 101 cara yang dipelajari seakan tak cukup, mungkin butuh 202. Semoga menuliskannya tidak mengurangi rasa syukur kami yang begitu besar kepada Allah..

Diawali dengan IMD yang tak berhasil (dedek tidak bergerak mencari puting), aku mengalami drama mengASIhi. Hari pertama Rashdan tidak mau mengenyot, kukira karena ASI belum keluar. Esoknya baru aku tahu tentang flat nipple. Setelah sedikit dilatih akhirnya mau, hari ke-2 keluar kolostrum sedikit sekali. Alhamdulillah Rashdan bertahan, kalau rewel bisa digendong hingga tidur.

Tapi kami harus safar di hari ke-3. Perjalanan satu jam terhambat jalanan yang ambles di ujungnya (sudah dekat rumah!) Tiga jam menunggu, akhirnya aku, ummi dan Hasan yang menggendong Rashdan naik getek melewati rawa-rawa sebagai jalan pintas. Sementara abang tetap mengantrikan mobil. Bisa dibayangkan was-wasku saat itu. Di seberang kami dijemput ibu dengan mobil yang kemudian sempat nyangkut juga. Meski sebentar, saat itulah aku mental breakdown pertama kali. Tak tega pada bayiku yang masih merah. Benar saja, sampai rumah Rashdan demam karena dehidrasi. Hari ke-2 kuberi sanmol karena demamnya masih naik turun, sementara ASI belum lancar.

Esoknya, kubawa dia ke puskesmas karena masih demam juga. Selain berniat cek lab, aku ingin menanyakan link konselor laktasi karena putingku lecet dan sakit saat menyusui. Alhamdulillah, meskipun cek lab ditunda dan tidak ada konselor laktasi di kecamatan kami, aku merasa dapat banyak support dari dokter (kak Ismi, makasih banyak ya) dan beberapa bidan di sana. Aku berusaha konsul sana-sini. Online tentunya. Ada kenalan SpA di Pangkalan Bun yang kulaporkan tentang tongue tie Rashdan dan menyarankan eval BB 1 bulan, karena masih bisa menyusu dan beliau memaklumi kami terbatas jarak(jalan) untuk periksa ke kota. Beliau juga yang menyarankan injeksi vit K sekali lagi saat Rashdan gumoh disertai gumpalan-gumpalan darah beberapa hari kemudian, syukurlah masih ada beberapa vial di puskesmas, aku membawa pulang satu.

Setelah hari ke-7 dilaksanakan aqiqah dengan lancar, esoknya ummi dan adik-adikku pamit pulang diantar abang ke bandara Iskandar Pangkalan Bun lewat jalan memutar. Phew, hari-hari awal terasa seperti jaga malam, stase anak. Koyo dipakai di mana-mana. Kadang tak bisa menahan tangis saat menyusui. Tapi drama baby blues mulai sangat terasa saat ummi harus pulang.

“Semangat berjuang jadi ibu. Jangan kaget, bayi/anak kecil itu nanti sering sakit (ringkih), ga usah panik atau terlalu khawatir,” pesan ummi sebelum pulang. Tapi Rashdan rewel sekali. Merah-merah di pipinya yang katanya karena kena ASI/biang keringat meluas di kepalanya yang gundul sampai muncul papul-papul putih seperti jerawatan di seluruh dahi. Aku mulai curiga ada alergi dari apa yang kumakan, apalagi BABnya bisa sampai 10x. Usia 18 hari karena dia cuma bisa tidur 8/24 bukannya 17/24 jam, aku dan suami ikhtiar ke SpA ke RSUD Sukamara yang lebih dekat (2 jam). Adek diberi salep CS yang ampuh sekali tapi kulitnya menipis jadi belang-belang, tidak kupakai lagi, hanya ikhtiar dengan sabun lactacyd baby (diberi dokter juga karena di desa kami tak ada yang jual). Dokter juga berpesan adek harus mengejar BB, melihat cara latch on, mengecek tongue tie. Masalahnya masuk usia 3 minggu Rashdan mulai gelisah saat menyusu.

Menyesuaikan diri dengan rutinitas baru saja sudah melelahkan, ini ditambah rasa khawatir yang terus-terusan. Susahnya akses ke rumah sakit, sulitnya mencari barang-barang yang (ternyata) dibutuhkan, kebingungan, kelelahan, kesakitan, ketidaknyamanan karena bukan di rumah sendiri, mulai membuatku tidak betah. Syukurlah suami masih libur antar semester, tidak harus setiap hari ke kampus. Saat itu, aku merasa ia satu-satunnya zona nyamanku. Tempatku mencurahkan perasaan dan yang tahu betul apa yang kumau/idealismeku. Tiap ia pulang, tangis yang kutahan seharian pecah. Pelukan, pijatan, kata-kata motivasi, nasihat dan bantuan selalu ia berikan sebisanya. Terkadang aku malah merasa bersalah karena sudah membebani. Perasaanku campur aduk, selalu pesimis dan takut. Takut setiap melihat dan memikirkan bayiku. Seperti ini ternyata yang disebut baby blues. Tapi, mempertimbangkan jarak dua pulau yang harus dilewati untuk pulang, kami urung. Aku berusaha mengikhlaskan, menerima keadaan dan berjuang. Jujur, aku belum pernah harus se-struggling ini dalam hidupku, belum pernah sekalut ini. Rasanya, aku jadi sadar ternyata buah hati kami, keluarga kecil kami ini sehat itu yang terpenting, rasanya tak ingin minta apa-apa lagi. Aku juga sempat konsultasi ke banyak sahabat, salah satunya calon psikolog andalan, mbak Ayas, yang berkata, “Ai dan suami pasti akan melewati ini dan nanti berkata ‘oh ternyata kita bisa melewati masa-masa sulit itu ya’,” yang terasa sangat melegakan dan memberiku sedikit optimisme.

Masa nifas memang memberikan keluasan waktu yang lebih untuk new mom mengurus newborn baby selama 24/7. Tapi bagiku, aku merasa sedikit terputus dari sumber kekuatan mentalku. Padahal, aku menghadapi masalah bertubi-tubi dan sedang bingung akan solusinya. Aku pun mengiba “ya Rabb, walaupun sedari pagi aku tak sesering itu menyebut-Mu dan berdoa kepada-Mu, Engkau tahu kan bahwa Engkau satu-satunya tumpuan harapan, bahwa semua usaha dan gerak-gerikku adalah doa kepada-Mu?” sambil menangis, aku berpasrah sekali lagi.

Lama-lama, abang juga tak tega melihatku. Aku, tak tega pada Rashdan. Kami berdua juga merasa kewalahan, ingin sekali ada expert yang membantu. Aku bilang ke abang, “aku kemarin sudah bisa coba ikhlas, gapapa aku capek, aku bisa menguatkan diri. Tapi ga tega sama Rashdan gelisah begini. Aku cuma pingin Rashdan seperti bayi-bayi lain, sehat dan ceria.” Akhirnya kami bersepakat untuk menunggu hasil evaluasi BB Rashdan di usia sebulan. Qoddarullah, Rashdan baru naik 500 g dari target kenaikan BB minimal bulan pertama yang 800 g. Dua hari kemudian kami memutuskan konsultasi ke dokter anak di Pangkalan Bun yang ternyata seorang konselor laktasi juga, alhamdulillah. Perjalanan 4 jam kami tempuh dan menginap di hotel. Aku diberi tips-tips menyusui, bagaimana membentuk pola tidur malam, menyarankan evaluasi BB sebulan lagi dan diberi izin terbang. Beliau mendiagnosis kulit adek dermatitis atopi/eksim dan meresepkan obat yang harus kubeli online, meskipun aku tak yakin karena aku dan suami tidak punya riwayat atopi serta UKK-nya bukan kulit kering. Adek juga dirujuk ke dokter bedah dan dipotong tongue tie-nya. Beberapa hari setelah itu ternyata belum ada perubahan, Rashdan masih gelisah menyusu, hanya tidur malam yang sudah bisa lebih berpola dan kulitnya yang membaik alhamdulillaah.

Akhirnya, aku mengajukan pulang ke Sorowako. Mumpung ummi dan abi juga akan transit di Jogja, jadi ada yang membersamai. Sambil terus mengulang, “kami tak tahu sesungguhnya ini rahmat atau musibah, tugas kami hanya berprasangka baik pada Allah.” Terinsipirasi oleh umminya Fawwaz. Ujian-ujian ini, yang ternyata berat sekali di hati seorang ibu, semoga menjadikan kami manusia yang lebih bersyukur. Ternyata, anak itu rezeki. Setetes ASI rezeki. Menyusui dengan mulus itu rezeki. Sehat itu semuanya rezeki.

(Bersambung)

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *