New Mom #1 Giving Birth

Categories Pengalaman

Mulai ditulis 20 Feb 2019:

Kalau ingat proses melahirkan, aku takkan bisa menuliskannya tanpa menangis, tanpa gejolak perasaan yang luar biasa. Mungkin memang masih dalam pergolakan hormon usai melahirkan, tapi inilah pelajaran yang kudapatkan tanpa kulebih-lebihkan.

– Proses melahirkan sungguh mengajariku sekali lagi tentang hakikat hidup, tentang karena siapa kita di sini, ditolong siapa, untuk apa dan bagaimana akhirnya.

– Susahnya melahirkan Allah maksudkan untuk membuatku sadar bahwa amanah ini sangat besar, nyawa pernah kupertaruhkan untuk anak ini. Ya, semua kemungkinan terburuk membayangi saat itu.

– Seorang ibu merasakan sakit yang luar biasa, sakit yang mengingatkan juga tentang siksa neraka bila memasukinya. Aku sempat merasa dibayang-bayangi kematian sehingga terus meminta maaf pada suamiku dan juga ibu mertua, tak lupa menyimpulkan, “abang, tugas kita berat, kita harus saling menjaga dari api neraka ya.. yang siksanya berkali-kali lipat dari ini.”

– Rasa sakit meleburkan dosa-dosa ibu, ibu rela menanggungnya demi melahirkan jiwa suci yang diharapkan menjadi penerus yang lebih baik bagi perjuangannya dan sebaik-baik bekal bagi dunia dan akhiratnya.

Singkat cerita, begini proses kelahiran Rashdan di klinik Hastarini, Pangkalan Bun.

“Kalau maju semoga setelah tgl 10 Feb, setelah genap 1 tahun pernikahan kita,” kata suami. Meski bukan suatu alasan yang kuat, benar saja, tgl 11 dini hari pukul 3.00 aku merasakan baju bagian bawah basah saat tidur, kucium baunya tidak pesing, maka tahulah aku bahwa inilah saatnya. Aku juga merasakan kontraksi yang cukup sering meski tidak sakit, jadi aku percaya diri dan mengambil koper menuju klinik untuk bersalin dengan dibantu bidan. Ternyata, setelah diperiksa dalam belum ada bukaan. Tegaklah diagnosis KPD/Ketuban Pecah Dini dan proses selanjutnya harus dibantu dokter kandungan (padahal sebenarnya kami punya preferensi SpOG perempuan, dengan banyak pertimbangan dan berat hati kami memilih tetap di klinik).

Aku diminta bed rest, birthing ball yang dibawa pun sama sekali tak boleh digunakan. Pukul 12 dievaluasi baru bukaan 1 dan dokter memutuskan memberi infus induksi yang aku hentikan pukul 15-an, tidak kuat. Rasa mulesnya seperti tanpa jeda. Alhamdulillah berlanjutlah kontraksi alami, meskipun majunya bukaan jadi lambat. Dokter membatasi 24 jam, kalau bukaan belum lengkap akan dilakukan SC.

Betapa aku sempat pesimis, “gimana kalau sudah capek-capek ternyata akhirnya SC? Soalnya banyak yang begitu, gagal diinduksi.” Maghrib itu, aku yang memang cengeng, dihampiri rasa takut yang besar; bukan hanya tentang sakitnya kontraksi atau gagalnya induksi, tapi juga tentang dosa-dosa, sehingga banyak menangis.
Tapi suami dan ibu mertua yang menemani menyatakan siap begadang mendampingi. Aku genggam kuat tangan mereka kala kontraksi datang. Bidan juga memotivasi “ini terserah ibunya, kalau mau, optimis bisa.” Awalnya agak tak masuk akal di telingaku saat itu, tapi ada benarnya, kalau mau menjalani, ayo jalani dengan optimis.

Akhirnya kuatur lagi nafasku. Saat masuk fase aktif, fokus untuk nafas teratur agar tidak mengejan jadi lebih berat, sepertinya tiap 10 menit aku kebobolan dan mengejan hingga air ketuban tumpah-tumpah. Tak lupa DJJ dicek tiap 15-30 menit dan selalu dinyatakan stabil. Alhamdulillah, pukul 2 dini hari bukaan 7 dan aku dipindah ke ruang tindakan/VK untuk bersiap-siap.

Sesaat sebelum dokter datang bukaan hampir lengkap, hanya arah jam 2 yang masih belum kata bidan. Tapi saat dokter datang sekitar pukul 3, aku langsung diperbolehkan mengejan. Lega sekali, hanya mengatur posisi yang jadi tantangan kemudian karena bed tidak bisa ditinggikan tapi tak ada tempat juga untuk suami memangku.

Karena DJJ lalu sempat naik dan menandakan distress (kelelahan janin) setelah bersabar 24 jam, akhirnya dilakukan epis dan perutku didorong oleh 2 bidan. 3x mengejan alhamdulillaah Rashdan lahir dan menangis. 12 Februari 2019, maju 4 hari dari HPL. BB 3.00 kg, PB 50 cm, APGAR 7/9.

Setelah dijahit dan IMD (yang tidak terlalu berhasil), aku berjalan kembali ke kamar untuk rooming in dengan bayiku. Ya, langsung bisa jalan dg semangat dan tidak merasakan sakit. Suami dan ibu mertua langsung istirahat setelah subuh, sementara aku justru tak bisa tidur menunggu bayiku.

Siangnya ummi dan adikku datang dari Jogja, sore itu juga kami diperbolehkan pulang, kami tinggal di rumah yang dikontrak sementara. Lusanya, kami safar pulang ke rumah di Kotawaringin Lama.. dan drama baru pun dimulai.

(Bersambung)

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *