Menyusui 2 Tahun itu Rezeki

Categories Uncategorized

“Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS Al Isra’ : 30

Menyusui anak selama dua tahun penuh pernah hanya sekedar mimpi bagiku. Aku seorang dokter yang merasa cukup memiliki bekal tentang menyusui saat itu. Tapi ternyata, Allah berikan sekian drama meng-ASI-hi yang membuatku belajar lebih banyak lagi. Pertama, bahwa bisa menyusui itu pun rezeki. Tentu banyak ibu baru yang mulus-mulus saja saat belajar menyusui anak pertama mereka. Tapi ada banyak juga yang jalannya rumit sepertiku.

Diawali dengan Inisasi Menyusui Dini (IMD) saat lahiran yang tak berhasil (bayi tidak bergerak mencari puting), ASI yang baru mulai keluar setelah hari ke-2, bayi sulit mengenyot karena kedua puting datar, puting yang pecah dan berdarah selama hampir 3 minggu, disertai bayi yang sangat rewel karena merasa tidak pernah kenyang, BB bayi pun tidak naik sesuai KMS selama 2 bulan awal berturut-turut sehingga akhirnya atas saran DSA disuplementasi sufor menggunakan botol dot.

Alhamdulillah saat itu semua masalah bisa dipelajari bersama konselor laktasi, meski secara online karena aku tinggal di pedalaman Kalimantan Tengah. Semua usaha dilakukan, konsumsi berbagai ASI booster hingga power pumping, karenanya biidznillah ASI-ku bisa tetap keluar dan porsinya masih lebih banyak dibanding sufor. Tapi jelang bulan ke-5 aku kehilangan bantuan, sebab sebelumnya tentu ada yang menjaga bayiku ketika harus pumping dsb, sehingga saat itu akhirnya bayiku minum lebih banyak sufor bahkan sempat mengalami bingung puting. “Haruskah aku berhenti menyusui di sini?” Pikirku. Dengan kecemasan luar biasa, aku lakukan relaktasi. Meski tidak sepenuhnya berhasil, alhamdulillah bayiku mau kembali direct breast feeding disamping minum sufor, karena ASI-ku sampai detik itu belum juga bertambah banyak. Syukurlah MPASI menjelang setelahnya.

Tapi drama tidak berhenti sampai di situ, di bulan ke-8 aku mulai kembali bekerja sehingga tidak bisa sering DBF maupun pumping. Sebelumnya aku memang sudah berkali-kali ingin menyerah. Karena selain ASI yang tidak cukup, bayiku sangat ketergantungan menyusu (mengempeng) saat tidur malam yang menghambat pekerjaan rumah, belum lagi masuk angin dan sakit maag-ku yang sering kambuh karena pola tidur terganggu. Tapi syukurlah ada suami yang selalu menguatkan dan siaga membantu.

Kami sama-sama belajar, dari QS Al Baqarah : 233 disebutkan “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut cara yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” MasyaAllah.. Jelas bahwa menyusui 2 tahun adalah kesempurnaan, karena memang manfaatnya banyak sekali (kesehatan bayi & ibu, bonding, pahala dan dihapusnya dosa, dsb tidak bisa disebutkan semuanya di sini), tapi tidak wajib jika memang ada beberapa halangan dari segi medis, mental, maupun aspek kesanggupan.

Di luar sana, ada yang mengalami banyak drama juga dan berhasil mengatasinya. Tapi bagiku saat itu, aku tidak bisa memaksa, misalnya jika ingin exclusive pumping, aku tidak bisa karena kesulitan mencari nanny sekalipun jika mampu membayarnya. Jadi, aku hanya bisa pasrah. “Ayo jalani, meskipun hanya sampai 6 bulan,” kata suamiku sebelumnya. Ternyata Allah mampukan lebih. Akhirnya sejak saat itu aku terus berpasrah, sampai baby led weaning, tidak masalah.

Karena yang kedua, kami belajar menginsyafi bahwa rahmat Allah itu tidak mengenal batas. Ketika ingin memberikan yang terbaik, tapi ternyata dihadang keterbatasan, percayakan pada Allah yang rahmat-Nya tanpa batas. Misalnya, banyak ilmuwan yang lahir dari keluarga miskin yang mungkin di masa kecil lebih sering makan nasi dan kerupuk saja, dari teori manusia mungkin gizinya tidak tercukupi, tapi Allah bisa memberi karunia dengan cara-Nya. Itu contoh saja. Akhirnya memang doa, syukur dan prasangka baik yang harus diperbanyak.

Tentu saja bukan hanya dalam hal menyusui, melainkan dalam berbagai hal termasuk berbagai tantangan parenting lain yang menanti. Barangsiapa ikhlas dan terus berikhtiar, yakinlah Allah yang akan menyempurnakan. Bahkan, pelajaran ini yang menurutku menjadi hikmah paling besar. Bisa mendekat kepada Allah selalu jadi hikmah terpenting, bukan? Lahawla wala quwwata illa billah.

Dan kamu tahu? Biidznillah sekarang aku baru saja selesai menyusui dua tahun! Ada berbagai kekurangan dalam melewatinya tapi alhamdulillah atas banyak manfaat yang bisa dirasakan.

Kotawaringin Lama, 12 Februari 2021

Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *