Mengapa Ingin Jadi Orang Tua?

Categories Kisah

Kunjungan Ummi dan Abi yang singkat di bulan Desember ini mengingatkan aku tentang suatu hal. Tapi pertama-tama, terima kasih Allah, masih memberi Ummi dan Abi kesehatan sehingga bisa menjengukku di sini. Terima kasih Allah, memberiku mertua yang sangat baik hati seperti ibu kandung sendiri, terima kasih Ibu. Terima kasih Allah, memberiku suami yang telah banyak bersabar dam mendukungku sampai saat ini.

Karena terserang flu bersamaan, aku dan suami banyak istirahat di kamar dan merasa kurang maksimal dalam membersamai Abi dan Ummi selama di sini. Untunglah acara beberapa hari ini memang cukup padat dan Ibu sangat siap sedia sebagai tuan rumah. Huft, ternyata aku tetaplah seperti anak-anak. Sedangkan keberadaan Abi dan Ummi yang mau melewati jalan penuh rintangan, tetap tanpa keluhan selama di sini mengingatkanku tentang makna menjadi orang tua. Orang tua itu adalah yang sama sekali tidak mau membahas perasaannya di depan anak-anak (kecuali jika ada tujuan tertentu ya), yang selalu ingin menanggung beban anak-anaknya kalau bisa, selama bisa..

***

Setelah menikah, insyaAllah kita akan merasakan banyak momen romantis. Istilah ‘pacaran setelah menikah’ itu asli dan sangat menyenangkan 😚. Meskipun tentu banyak yang memilih tidak mengumbarnya agar tidak dikatakan ‘kompor’ atau manas-manasin, atau dalam rangka menghormati yang masih single-lillah, atau tidak ingin nikmat yang dirasakan menjadi sumber iri hati orang lain, atau simply merasa bahwa hal-hal tersebut memang privasi dan cukup dinikmati berdua. Di antara banyak alasan itu, menurutku ada lagi satu alasan yang cukup esensial yakni agar jangan membuat banyak orang berpikir bahwa menikah itu isinya romantisme dan hal-hal manis saja, melainkan sebenarnya berisi 90% perjuangan. Sebelumnya, aku sudah dipahamkan hal itu, maka ekspektasiku tentang ‘pacaran halal’ tidak tinggi-tinggi. Kalau suami ternyata romantis dan ada banyak hal-hal manis selama sepuluh bulan ini, sungguh aku merasa itu semua bonus. Menemukan sosok sahabat karib tempat bercerita dan diskusi saja aku bersyukur, sebab memang ekspektasiku adalah mencari teman berjuang.

Dulu, selama proses belajar sebagai single(lillah) aku diberitahu bahwa seorang perempuan harusnya lebih ingin punya anak dibanding punya suami. Karena, punya anak insyaAllah tentunya punya suami. Tapi kalau baru ingin punya suami, jangan-jangan mentalnya nanti belum siap untuk punya anak. Nah, jadilah selain belajar tentang komunikasi dengan pasangan, fikih munakahat dsb, aku lebih banyak fokus belajar tema-tema parenting.

Tahu tidak kenapa aku ingin segera menjadi orang tua, saat itu? Disamping banyak sekali alasan, ada alasan yang bersifat personal juga sebenarnya. Aku terinspirasi oleh banyak sosok orang tua di sekitarku. Ummi dan Abi, para ummahat yang kukenal, dll. Betapa bagiku, mereka semua hebat karena sudah berhasil mengikis ego untuk seutuhnya mencintai anak-anak mereka melebihi cinta mereka pada diri sendiri. Aku saat itu tahu bahwa aku orangnya individualis, punya ego tinggi, meskipun dikatakan sebagai anak pertama, suka menolong dsb—aku selalu iri pada teman-teman yang punya compassion, karakternya tulus dan selalu bisa lebih mementingkan orang lain. Apalagi saat mendengar cerita dari teman-teman yang sudah lebih dulu menikah dan dikaruniai anak, katanya tiba-tiba punya semacam super power. Bisa kuat melakukan banyak hal yang rasanya dulu tidak mungkin seperti itu (re: the power of emak-emak😂). Aku merasa punya obsesi mencintai orang lain, tapi aku belum mampu memberi lebih. Contohnya, aku tahu pentingnya mengawasi dan mendidik adik-adikku saat kami akhirnya tinggal sekontrakan di Jogja, tapi ternyata aku masih selalu lebih mementingkan kuliah, organisasi dan urusan-urusan pribadi. Bahkan untuk menjaga rumah tetap bersih dan menyediakan makanan aku masih keteteran saat itu, dari situ aku belajar banyak dan bertekad ingin memperbaiki diri saat menjadi orang tua nanti. Ya, karena menjadi orang tua adalah peran yang sangat vital dan hebat menurutku. Tentu orang tua profesional yang kumaksud, bukan yang asal-asalan (karena ada 😭).

Tapi tentu ada proses yang tidak mudah dibalik sosok orang tua yang seperti itu, bukan? Menjadi orang tua adalah jalan pengorbanan, karena ingin selalu memberikan yang terbaik, mereka rela mengorbankan segala yang dimiliki. Mungkin, rasa cinta yang hadir pada anak/buah hati akan membuat orang tua lebih mudah melakukannya, tapi menurutku tetap saja semua itu akan butuh latihan. Latihan bertanggung-jawab, latihan berkorban. Sedangkan sampai titik ini saja aku masih manja dan sering mengeluh, rasanya lambat sekali dalam belajar.

Karena itu, aku selalu menangis kalau mengingat jasa kedua orang tuaku. Aku tetap mewek dalam hati saat kemarin berpamitan lagi di bandara. Antara ingin jadi anak Abi dan Ummi terus, tapi juga harus bersyukur karena sebentar lagi akan merasakan jadi orang tua juga. Justru demi mereka aku harus membuktikan baktiku dengan berusaha menjadi lebih kuat lagi. Aku seharusnya lebih bersemangat dalam mempersiapkan diri menjadi orang tua dan membangun keluarga kecilku. Maka aku merasa hanya berhak meminta doa Abi dan Ummi. “Sabar, syukur, saling menguatkan dalam kebaikan. Doa Ummi selalu bersama kalian.”😢

Aku kecil bersama ummi di wisuda Abi (T. Mesin ITB th 1995)

***

Suamiku, maafkan jika bagimu selama ini aku begitu manja, karena beberapa faktor (kehamilan, tinggal bersama mertua dan sedang di masa pengangguran) dan mungkin memang mentalku masih seperti anak-anak yang ingin bergantung pada orang tuanya, akhirnya menganggapmu sebagai pengganti mereka. Semoga setelah ini kita bisa sama-sama berusaha lebih keras, mencoba menguatkan diri masing-masing untuk bersinergi lebih baik, ya. Terima kasih telah bersabar menghadapiku selama +- 7 bulan kehamilan yang penuh ujian ini. Terima kasih sudah selalu mengingatkan dan bertanya, “gimana, sudah siap belum?” sampai aku bisa menjawab, “menjadi siap itu artinya gigih dalam berbenah, insyaAllah.” Semoga Allah selalu menuntun kita belajar menjadi sebaik-baik orang tua dalam merawat dan mendidik amanah terbesar kita kelak ya, aamiin.👶🙏

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *