I’ve Never Been this ‘Selo’ in My Life

Categories Kisah

Dhuha adalah waktu jeda yang paling kusukai. Kenangan tentang dhuha yang langsung berkelebat di benakku adalah saat-saat menjalani S1, di kampus tercinta FK UGM. Teringat mushola kecil di antara sayap-sayap lantai dua, empat dan enam gedung Radio Putro, mushola yang diklaim khusus perempuan menyejukkan di pojok sayap timur lantai dua, juga mushola perpustakaan yang dingin, mushola gedung histologi yang bersih dan sepi, mushola KPTU yang luas, mushola ujung tangga gedung Grha Wiyata dan tentu saja lantai dua Masjid Ibnu Sina. Di sana kuhabiskan waktu antara pukul delapan hingga 10.30 jika ada jeda di antara kuliah dan praktikum. Ketika kebanyakan temanku sibuk membaca, menghapal, berdiskusi demi mempersiapkan pre-test atau ujian sekalipun, aku dengan senang hati mencuri sedikit waktu untuk melaksanakan shalat dhuha. Bahkan jika waktunya lebih longgar, aku suka menghabiskan waktuku di mushola, sendirian atau kadang bersama teman. Di waktu dhuha aku menitipkan banyak perasaan gugup, khawatir atau takut ketika akan menghadapi tes demi tes di FK. Di waktu dhuha aku membayar shalat tahajud atau amalan sunnah lain yang belum sempat kulaksanakan sebagai ungkapan syukur yang begitu besar atas hari dan kesempatan yang Allah berikan sekali lagi, atas tubuh yang sehat, atas nikmat Islam dan iman. Di waktu dhuha aku mendoakan orang tua, keluarga, sahabat dan umat Islam di mana pun mereka berada, terutama jika sepagi hari aku belum melakukannya. Di waktu dhuha aku meninggalkan dunia sejenak, betapapun sibuknya, karena tak rela ada yang menyita rinduku untuk berbicara pada Sang Khaliq. Di waktu dhuha aku memasrahkan segala beban pada Dzat tempat kembali segala urusan dan menguatkan tekad sekali lagi untuk melakukan yang terbaik, seperti pada waktu-waktu shalat lainnya. MasyaAllah, kini aku tahu betapa besar nikmat yang Allah berikan padaku saat itu.

Hidupku yang baru di rumah Kotawaringin Lama menjadi begitu berbeda, terutama karena aku mengandung. Sebenarnya, sejak menikah juga tanpa kusadari ada nikmat yang diambil dariku. Simpelnya, meskipun aku masih bisa melaksanakan amalan-amalan sunnah, aku merasa punya sumber kebahagiaan lain yang tampaknya kemudian mengalihkan khusyu’ku. Setelah dua bulan aku mulai muhasabah dan terus berusaha meluruskan niat, yang jelas ini bukan salah hadirnya suami dan aku tidak boleh hanya mengharapkannya terus mengingatkanku sebagai partner fastabiqul khairat, melainkan aku saja yang belum pandai mengatur segala sesuatunya; tubuh, waktu, perasaan, ruang kosong. Ketika aku mulai mabuk karena hamil, semuanya menjadi lebih berantakan. Tiga bulan lebih rasanya aku tidak menjadi manusia yang seutuhnya. Tiga bulan lebih hanya fokus menghadapi rasa tidak nyaman dan kemudian berkali-kali menyesali kelemahanku. Aku pun sadar betapa aku kekurangan cahaya. Aku jauh dari amalan sunnah, jauh dari Al-Qur’an. “Allahumma a-inni ‘ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibadatika..” Betapa nikmatnya ibadah itu hanya bisa dengan pertolongan Allah.

Tentu saja aku merindukan saat-saat sehat, saat-saat sibuk beramanah dakwah, saat-saat fokus memikirkan persoalan binaan, saat-saat punya banyak hal untuk ditulis dan dibagi, saat-saat punya energi positif dalam berpikir dan berbuat. Aku merindukan ditolong Allah sepanjang waktu, merindukan cinta dari langit untuk ditebarkan di bumi. Tapi aku hanya bisa beristighfar, rasanya belum berani meminta macam-macam. Aku masih bersyukur, bahkan ada banyak hal yang membuatku terharu yang terjadi di sini. Apalagi dua pekan ini kondisiku membaik, mulai bisa diajak masak dan melakukan beberapa pekerjaan rumah. Meski begitu manusia memang zalim, saat sudah diberi kesehatan dia pun lupa harganya, dia tetap tak bersungguh-sungguh tentang amalnya.

Seperti hari ini, ketika moodku baik karena pujian suami di pagi hari, badanku terasa lebih kuat, aku memilih berbaring menikmati ke’selo’an dan kesehatan ini, hingga datang waktu dhuha..yang mengingatkanku tentang kenikmatan sejati. Aku tidak ingin kemudahan dan kesenangan yang datang jadi fitnah. Aku juga tahu kita perlu berhati-hati, karena semangat akan melemah kalau tidak punya mimpi, tidak punya target-target hidup. Ternyata, bukan hanya semangat, kenikmatan beribadah pun bisa padam ketika hidup seseorang selo dan tidak terarah seperti ini. Maka hari ini, aku melanjutkan amalan sunnah yang kumampu, meski aku tahu masih jauh dari ihsan, masih belum bisa selalu khusyu’. MasyaAllah, setidaknya aku dapat inspirasi untuk menuliskan semua ini, setelah berbulan-bulan tak berani menulis.

Semoga aku tak pernah lelah berdoa agar dimampukan, agar tiap detik umur bermanfaat. Agar tiap momen itu berkah dengan melibatkan-Nya. Meski pertama-tama mungkin aku harus berdoa agar dimampukan sehari saja tidak mengeluh sama sekali.

KtwL, Sep 2018

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *