Ibu, you’re part of a legacy..

Categories Uncategorized

Menjadi ibu itu, ada hari-hari yang biasa saja, alhamdulillah lancar sebagian besar yang direncanakan. Ada hari-hari yang mulus, mendapat banyak bantuan. Tapi tak jarang juga melewati hari-hari yang kacau, yang kadang sungguh membuat merasa kewalahan, lahir dan batin. Ya kan bu? Bahkan hari-hari itu bisa juga dirasakan sebagai ‘minggu-minggu’ atau ‘bulan-bulan’.

…Sabar mana sabar?
…Jeda mana jeda? 
…Solusi mana? 
…Harus pilih yang mana? 
…Aku sebenarnya bisa nggak sih? 
…Aku menyesal sekali! 
….Allah mendengarku.. kan ya?

MasyaAllah.. peluk dulu :’)
Izinkan saya berbagi sedikit insight dari sebuah kajian yang saya simak ya. 

Dalam khutbah ust. Nouman Ali Khan yang berjudul “Overwhelmed di channel youtube Bayyinah Institute, beliau meng-highlight dua ayat di dalam Al Qur’an, yakni ayat yang berkisah tentang Ibunda Nabi Musa dan ayat tentang malaikat penjaga di surah Fussilat. Overwhelmed sendiri berarti kewalahan, perasaan tak lagi mampu menahan beratnya masalah.

Poin pertama beliau disarikan dari ayat lainnya, bahwa manusia memang diciptakan Allah hidup dalam kondisi susah payah. Tiap orang diuji dengan masalah demi masalah, terlihat maupun tidak. Nah, ternyata jika disimpulkan, dalam kehidupan ini ada dua masalah utama, yakni rasa takut (terhadap yang akan terjadi) dan rasa sedih (terhadap apa yang telah terjadi).

‘Iman’ tidak akan menghindarkan kita dari keduanya, seseorang yang imannya kuat bukan berarti ia tidak akan merasakan takut atau sedih sama sekali, justru seringnya malah semakin berat ujiannya. Tapi, keimanan terhadap Allah dan kuasaNya akan memberi kekuatan untuk melewati ujian-ujian tersebut.

Dalam kisah Ibunda Musa yang mengalami ketakutan luar biasa (antara melihat bayinya dibunuh di depan mata atau melempar keranjang bayinya ke sungai) lalu kesedihan luar biasa (menyesal, tak tahu nasib bayinya yang akhirnya ia ‘buang’), Allah berkata yang intinya “..seandainya tidak Kami teguhkan hati Ibunda Musa yang telah kosong itu, ia pasti tidak kuat dan menyatakan rahasianya.” Hikmahnya, ternyata manusia bisa jadi memang tak bisa mengendalikan hatinya ketika diuji dengan besarnya ketakutan atau kesedihan, merasa overwhelmed… hingga Allah yang memberi kekuatan.

Lalu poin berikutnya, bagaimana agar Allah beri kekuatan? 

Sebenarnya ketika seseorang berkata “Rabb..” artinya ia selayaknya percaya bahwa Allah Maha Menjaga, Maha Mengatur dan Maha Kuasa (merupakan akar kata Rabb).. Jadi ketika merasa overwhelmed, percayalah bahwa Allah akan menolong kita, Allah akan menjaga hati kita tetap utuh, Dia takkan meninggalkan kita dan membiarkan kita ‘tenggelam’.

Kesimpulannya, di situlah fungsi iman, yang menjaga ikatan kita dengan harapan kepada Allah, yang membuat kita berdoa dan mengingatNya sepanjang waktu. Iman tidak akan mengubah realita, tapi ia akan mengubah diri kita. Rasa takut dan sedih itu tetap ada, tapi kita bisa melewatinya. 

Singkat cerita, poin terakhir adalah pentingnya menghibur hati. Seperti di surat Fussilat, seseorang yang beriman dan bersabar selama hidupnya saat meninggal akan didatangi malaikat yang berkata, “..kami (diutus Allah sebagai) penjagamu selama hidup di dunia, selamat mulai sekarang engkau tidak akan merasakan takut dan sedih selama-lamanya.” Allah juga memakai kata ganti plural di sini, sebab engkau tidak sendiri. Ada Ibunda Musa, ada para Nabi, sahabat-sahabiyah, orang-orang shalih. You’re part of a legacy. Allah tahu inilah kisah anak Adam. Masyaa Allah.

Dari pemahaman itu, saya merasa shalat sebenarnya bisa menjadi hiburan di sela-sela kerepotan mengurus anak dan rumah (not to mention pekerjaan dan amanah lainnya..). Kalau bisa mengusahakan shalat khusyu’, saya bisa menghayati arti surah-surah dan doa-doa yang saya baca. Saya memohon petunjuk, memuji kebesaran-Nya, merendahkan hati, pun membaca kembali dua kalimat syahadat, mengirimkan shalawat untuk nabi-nabi dan orang-orang salih. Sekilas seperti tak ada hubungannya dengan betapa riweuh dan melelahkan dunia motherhood yang saya jalani, tapi dari hikmah kajian di atas saya tahu, bahwa motherhood adalah bagian dari jalan jihad orang-orang salih(ah), jalan kemuliaan. Motherhood adalah bagian dari menjalankan agama Allah dan karenanya Allah tak sedetikpun meninggalkan saya, as He always is.

Kalau lelah fisik tentu saya perlu solusi riil, perlu tangan-tangan yang membantu, perlu asupan dan istirahat. Kalau lelah batin, bagi saya, hal di atas cukup menghibur dan melerai penat. “Ibu.. you’re part of a legacy.”

Tipis-tipis meluruskan niat ya :’D
Katanya keikhlasan memang bisa jadi obat.

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *