Credibility : Pengantar Dakwah Profesi (Catatan Silatnas PROKAMI 2016)

Categories Pengalaman

“Dakwah has got to be credible! Our movement through profession should aim to be the most credible movement..”

Alhamdulillah, Sabtu dan Ahad kemarin, saya berhasil menyusup ke sebuah forum nasional, Silatnas PROKAMI yang diadakan di Islamic Center Masjid Jogokariyan. Saya bukan (belum menjadi) anggota Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia atau internationally known as Islamic Medical Association and Networking of Indonesia (IMANI) yang diisi bapak-ibu ikhwah para medical doctors and specialists and even professors, nurses, dentists, mid wives, dietitians, lab analyst dari berbagai daerah dan berbagai kampus di Indonesia. Jadi itu pertama kalinya saya merasa benar-benar kerdil di antara peserta yang mendengarkan pengarahan dan taujih, apalagi temanya tentang dakwah profesi.

Di forum silaturahim itu, kami mengawali dengan saling berkenalan. Kebanyakan merupakan dosen, selain itu pengelola klinik atau rumah sakit, atau malah memegang amanah di wilayah, dan ada juga beberapa yang di dakwah sekolah. Setelah itu ada sambutan oleh ketua PROKAMI dari Jakarta, dr. Achmad Zaki, Sp.OT yang menyampaikan tentang “mempersiapkan siklus 20-tahunan tahun 2018-19” di mana kita membutuhkan iron stock yang kuat secara kapasitas untuk mengambil peran di kepemimpinan nasional. Diantaranya adalah dengan merevitalisasi pemberdayaan PROKAMI Muda (a student chapter) untuk tanmiyatul kafaah dan nashrul fikrah, serta pemberdayaan potensi ekonomi-kesehatan untuk kasbul maisyah.

Sesi berikutnya adalah diskusi panel bersama para asatidz, ust. Cholid Mahmud dan ust. Mustafa Kamal. Terlepas dari skema kaderisasi yang beliau jelaskan sebagai frame pemenangan dakwah ke depan, beliau mengutip “wa antum a’lamu bi umuri dunyakum”, sabda Rasulullah suatu ketika yang artinya “kalian yang lebih mengetahui urusan dunia kalian”, sebagai sebuah legitimasi terhadap keahlian para sahabat di bidangnya masing-masing.

Setelah itu, banyak sekali usulan-usulan yang masuk. Seperti penyesuaian kurikulum di kampus kesehatan, coaching karakter profesi ideal, membuat kegiatan kolaborasi nasional di mana mahasiswa kita bisa merasa bangga setelah tahu ikhwah bertebaran dimana-mana (yup, seperti yang saya rasakan saat ikut forum ini!), pemantapan peran dosen sebagai aktivis dakwah kampus, strategi pentahapan dakwah kampus, dsb yang kemudian dibahas lebih rinci di rapat komisi-komisi.

Salah satu taujih disampaikan oleh sang guest star, Prof. Dr. Abdul Latif Mohamed, seorang cardiologist lulusan Malaysia dan UK yang merupakan wakil rektor Cyberjaya University College of Medical Science, dan inilah yang paling berkesan bagi saya.

Saya baru sadar, para qiyadah kita sering memulai bahasan bukan dari persoalan, tetapi dari hal-hal mendasar seperti tujuan. Beliau-beliau seakan ingin menanamkan, bahwa di tengah kondisi serumit apapun, kita harus ingat dan senantiasa kembali pada hal-hal yang pada dasarnya kita perjuangkan.

Seperti Prof. Latif juga yang memulai dengan “What’s the ending? Saya ingin bercerita.. Sekitar sepuluh tahun lalu kami pernah mengumpulkan mahasiswa dan didatangkan perdana menteri Malaysia saat itu, an ex-medical doctor (sorry to forget the name-red). Kemudian ada seseorang yang mengajukan pertanyaan untuk mewakili para mahasiswa yang mungkin merasakan discouragement melihat seorang dokter melepaskan profesinya untuk sebuah jabatan lain. Tapi beliau menjawab, ‘saya memang tidak mau jadi dokter sejak awal.. Sewaktu pelajar saya melakukan amal sosial dan mengajak orang-orang untuk hidup sehat dsb, tetapi mereka tidak mau mendengarkan. Saya berpikir bahwa saya harus punya gelar dulu, lalu saya masuk medical school dan setelah saya mendapatkan gelar, orang-orang mau mendengar semua yang saya katakan. Maka akhirnya saya lepaslah itu karena sekarang orang-orang sudah memberi saya kepercayaan’.. Dakwah has got to be credible! Our movement through profession should aim to be the most credible movement. So people see high upon us, seperti di maratibul ‘amal; menuju ustadziyatul ‘alam (guru/referensi peradaban).”

“Ikhwahfillah.. You’ve chosen this platform and too late to change, you’ve chosen where you’ll spend the rest of your life.” Kata beliau lagi keesokan harinya. Maka, jika dulu profesi dokter memiliki kartu spesial untuk futur dari dakwah karena on call dsb, justru sekarang dakwah dan profesi kita ini tidak lagi terpisah. Di sini kita mencetak pemimpin umat. Beliau lalu menceritakan 3 proyek ikhwah profesi kesehatan di Malay; pembangunan klinik, rumah sakit, dan medical school. Medical school ini harus bisa bersaing dengan yang sudah ada, harus punya daya tariknya. Di CUCMS, dibuat kurikulum 5 tahun dengan 2x exam besar saja, jadi mahasiswa tidak pusing dengan jadwal, tidak absen menghadiri daurah dengan alasan minggu depan ujian dsb. Kurikulum ini dinyatakan terstandar bahkan yang terbaik, CUCMS pun sudah diberi predikat five stars med school. Untuk melebarkan sayap dakwah, syarat masuk tidak harus ber-GPA 3.9, cukup 3.0 saja. Selain itu beliau mengajak kita think out of the box; internationalize people. Tawaran beasiswa di CUCMS juga sangat bermanfaat untuk membantu Islam minoritas di negara lain seperti Vietnam, Maldives, etc. “This is the beauty of education. If you just donate, they’ll just survive about two weeks. But if you teach their children to be a nurse or doctor, you make the whole family out of poverty forever!” Belum lagi, pulang-pulang mereka bisa menjadi da’i di daerahnya. MasyaAllah! Dengan membangun medical school, Prof Latif mengaku sangat bahagia sebab tidak perlu lagi memisahkan pekerjaan dengan dakwah. Di kampus, hubungan yang ada bukan lagi guru-murid, tetapi da’i dengan mad’u-nya.

Ada juga sebuah cerita yang memotivasi beliau setiap hari. Imam Al Ghazali pernah meninggalkan pekerjaannya yang lain untuk membangun dan mengajar madrasah, karena beliau sadar harapan terbesarnya di sana. Lalu beliau wafat dan madrasah itu dilanjutkan generasi demi generasi, sampai lebih dari seratus tahun kemudian, luluslah seorang murid bernama Shalahuddin Al Ayyubi. Berarti apa? Butuh 100 tahun dan 3 generasi terlewati agar lahir seorang pemimpin seperti Shalahuddin. Kita pun harus sabar berjuang, dan meletakkan harapan kita pada pendidikan, sebab umat ini bukan butuh muslim yang lebih banyak, tetapi mereka butuh minimal 1 leader yang dapat menyatukan dan mengajak umat pada kemenangan.

Beliau pun menyinggung tentang leadership. Issue tentang syuro’ yang adil, tentang menjadi follower yang baik, tentang “kita memulai, dan biarkan orang-orang melakukannya juga. Kita tentu tidak sempurna, pasti ada yang lebih baik dari kita. Allah will choose the right people at the right time, insya Allah.”

Setelah itu Prof. Latif membahas strateginya. The power of our jamaah is ‘SDM’, but don’t ignore financial and political will. Beliau mengajak untuk belajar dari kesalahan ikhwah di Malaysia juga Jordan. Jadi, harus selalu ada tiga mata tombak: services (ruang interaksi dengan masyarakat), medical school (penyiapan generasi), and pharmaceutical industry (penyokong dana). Beliau mengajak agar semangat membangunnya di Indonesia, di mana biayanya bisa lebih murah dan secara politik sangat welcome.

PROKAMI Muda sendiri nantinya merupakan lembaga yang mempunyai misi menaungi aktivis mahasiswa kesehatan pasca amanah di organisasi kampus yang sedang dan akan menempuh pendidikan profesi agar berlanjut aktivitas tarbiyah dan dakwahnya, karena selama ini masa peralihan tersebut menjadi titik rawan bagi kader untuk mlipir dan lepas. PROKAMI Muda merancang program yang dapat memperkenalkan dakwah profesi sedini mungkin, agar para aktivis dakwah kampus memiliki visi dakwah keprofesian dan sejak awal tahu sampai kapan pun amal jama’i-nya akan terus berlanjut. Begitu juga bagi aktivis dakwah sekolah yang menekuni bidang kesehatan, mendekati pendidikan profesi, tidak ada salahnya ikut bergabung PROKAMI Muda ini. Another power of our jamaah is networking, anyway.

Bagi saya sendiri, ini reorientasi yang sangat berharga, termasuk inspirasi untuk lanjut menggodog wacana lembaga kesehatan di dakwah sekolah sebagai sarana pemberdayaan kader dakwah dan sarana ekspansi. Semoga, suatu hari nanti PROKAMI Muda bisa punya sub-divisi pelajar.

Selain bahwa selama acara, saya bergumam dalam hati, seharusnya kamu tidak boleh merasa lemah, Zah. Kamu harus berdiri yang tegap, siap. Karena..”Kalau kita cepat mengorganisasi diri, ada teramat banyak hal yang menunggu di depan kita.” Teringat nasihat ust. Cholid Mahmud.
Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 20 April 2016

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *