Catatan Pribadi KKN-PPM UGM 2017 Banyuyoso (Bag.2)

Categories Pengalaman

Suatu hari di depan pondokan Pak Sulis, saya mengobrol bersama Suzash, seorang mahasiswa Sastra Indonesia yang sudah menjadi teman dekat saya sejak KKN dimulai. Saya mengutarakan pendapat bahwa program-program (milik saya terutama) yang sudah berjalan sejauh ini kok tampaknya miskin pemberdayaan warga lokal. Alih-alih, semua yang mengerjakan mahasiswa. TPA misalnya, bisa-bisa sepulang kami dari sini, kegiatannya kembali seperti sediakala dan kekurangan pengajar. Sudah sejak awal kami mempertanyakan keberadaan Karang Taruna alias muda-mudi Desa Banyuyoso yang katanya hanya sedikit dan sudah lama tidak aktif berkegiatan. Hingga suatu hari, teman saya Radin, mahasiswa ilmu komunikasi yang juga besar di JS dan RK, mengutarakan ide yang sama dan langsung berkonsultasi dengan Pak Ustadz. Setelah itu, kami membentuk grup kecil berdelapan untuk menyusun grand design pembentukan remaja masjid. Ketika dikumpulkan, ternyata ada 28 anak yang siap digerakkan dan itu lebih dari cukup. Malam itu pula, Selasa 18 Juli 2017, saya bertemu dengan benih-benih yang berkilauan di Banyuyoso. Kami pun bersepakat untuk bersama-sama melakukan kaderisasi, berharap dalam tiga pekan mereka mulai bertunas.

Adik-adik TPA (foto IKARIB-nya belum ketemu hehe)

Apa yang dapat mahasiswa pelajari dari membina anak remaja? Tentunya, kami semua sudah pernah melewati masa itu dulu kala. Meski demikian, hal itu tidak membuat kami semudah itu ketika membina mereka. Sebagian dari kami sudah lupa rasanya jadi remaja karena sudah terlalu sering bergaul dengan orang dewasa, membahas masalah-masalah orang dewasa dan berbicara dengan bahasa orang dewasa. Sebagian lagi merasa tak mampu mengikuti perkembangan zaman yang begitu mempengaruhi pikiran dan perilaku remaja, berbeda dengan anak-anak yang lebih muda di Banyuyoso, yang masih jauh dari gadget dan yang masalahnya hanya seputar berebut kuas lukis. Sebagian lainnya paham hal itu tapi menemui kesulitan saat ingin mengakselerasi pemahaman dan kapasitas anak remaja. Ya, saya sendiri yakin, sebenarnya seorang anak bisa menerima pelajaran se’berat’ apa pun, bergantung pada kemampuan pengajarnya dalam membawakan materi. Seperti orang tua para ulama yang bisa mengajari anaknya tauhid sejak kecil, membimbingnya tuntas menghafal seluruh Al Qur’an, atau orang tua yang berhasil mengajari anaknya pandai matematika sejak kecil. Bahkan kecerdasan emosional bisa dibentuk sejak balita, seperti selebgram yang bisa kita saksikan bersama, Kirana “Happy Little Soul.” Yang kita butuhkan adalah kreativitas, yang dapat terbangun dari pengalaman, belajar pada berbagai sumber dan tentu saja, kemauan. Adik-adik remaja masjid yang kini disebut IKARIB (Ikatan Remaja Islam Banyuyoso) sangat antusias ketika berkumpul dengan kakak-kakak mahasiswa. Kami memberi pengantar dan motivasi untuk berorganisasi, membantu membuat pondasi awal struktur IKARIB dan bersama-sama menyusun program kerja tiap kebiroan (divisi). Tapi, jika diperhatikan dari gerak-gerik dan cerita beberapa adik, motivasi terbesar buat anak seusia SMP seperti mereka tetap saja “kumpul bersama teman.” Hal ini dapat dipahami karena secara umum mereka tiba di tahapan di mana peran peer group sangat penting bagi mereka. Tanpa menafikan hal tersebut, memahaminya, alangkah baiknya bila kami mahasiswa bisa membina sembari mendukung adik-adik yang baru belajar membangun “status sosial” ini.

Berorganisasi bukan hanya tentang bagaimana menjalankan program, dengan berorganisasi kami harap adik-adik dapat belajar bersosialisasi, kepemimpinan dan bahkan manajemen waktu.

Belum lagi, IKARIB adalah organisasi berasaskan Islam yang tentu dapat memotivasi dan menambah pengetahuan serta praktik beragama adik-adik di Banyuyoso. Sebagai pembina tidak resmi, saya dan teman-teman sadar bahwa banyak tantangan yang akan mereka dapatkan setelah KKN kami usai. Untuk menjaga keaktifan anggotanya, kami sudah memberi mereka program untuk dijalankan bersama selama kurang lebih dua bulan ke depan, yakni event peringatan Tahun Baru Islam. Permasalahan solidnya internal pasti lah melekat di setiap organisasi, apalagi IKARIB yang baru saja berdiri. Masalah ini sangat bergantung pada kepemimpinan di organisasi tersebut. Oleh karena itu, kami juga berusaha memberi materi kepemimpinan yang dibahasakan secara halus kepada pengurus yang paling senior yang sudah ditempatkan sebagai ketua, sekretaris dan kepala kebiroan. Hal ini tentu hanya bisa dilakukan ketika kami sudah memiliki keterikatan hati dengan mereka, dengan melakukan pendekatan seperti mengobrol santai, mengunjungi rumahnya dan memberikan hadiah kecil berupa buku bacaan, setidaknya itu yang saya lakukan. Sepulang KKN kami bertekad untuk terus memantau lewat grup whatsapp dan membantu sebisanya. Sepekan yang lalu, saya dan beberapa teman juga berkesempatan berkunjung lagi ke Banyuyoso dan mengadakan training untuk adik-adik IKARIB, alhamdulillah. Walau begitu, saya kira aspek kaderisasi tetap terlalu berat untuk dipikirkan oleh anak seusia mereka seorang diri tanpa bimbingan dari yang lebih berpengalaman. Sehingga selain menitipkan pada Pak Ustadz, saya berusaha mencarikan mentor untuk membina mereka, urusan organisasi maupun untuk ta’lim rutin khusus remaja, akan tetapi narahubung yang saya dapatkan belum merespon.

Bersambung..

Yogyakarta, 7 Agustus 2017

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *