Catatan Pribadi KKN-PPM UGM 2017 Banyuyoso (Bag.1)

Categories Pengalaman

Alhamdulillah, alhamdulillah. Bulan Juni hingga awal Agustus kemarin saya KKN di Desa Banyuyoso, Kec. Grabag, Kab. Purworejo, Jawa Tengah. Sebuah desa kecil beranggotakan 257 KK saja yang kaya sumber daya air, luas membentang sawahnya, asri oleh nyiur-nyiur yang memayungi jalan dan sejuk oleh angin dari pantainya yang hanya berjarak tiga kilo. Banyuyoso adalah salah satu desa penerima bantuan pemerintah Jawa Tengah untuk program “Desa Berdikari” yang berfokus pada budidaya kambing silangan. Tingkat pendidikan dan kesehatan warganya cukup baik, menjadikan Banyuyoso sebagai desa yang sebenarnya sudah cukup maju. Saat kami tiba dan disambut dengan baik, kami merasa mungkin nantinya kami lah yang akan belajar banyak dari desa ini.

Persawahan yang mengelilingi Desa Banyuyoso

Kali ini saya bukan akan bercerita tentang jalannya program-program KKN, tentu saja, karena hal itu sudah tertuang di “Laporan Pelaksanaan Kegiatan” yang kami kebut pekan lalu untuk dikumpulkan ke LPPM UGM. Masih banyak hal menarik yang bisa dipelajari saat membersamai masyarakat yang berlatar budaya berbeda namun sekaligus bernurani yang satu.

Pada kali ini, saya menjumpai masyarakat muslim yang masih kental dengan budaya santri. Setahu saya, Purworejo memang didominasi oleh NU dan memiliki banyak pesantren. Keluarga besar dari ayah saya di Kaliboto-Bener juga ada yang kiai pemilik pesantren, cucunya beberapa nyantri sampai luar daerah, meski sebagian besar termasuk keluarga saya sudah berganti memilih sekolah modern. Begitu pula dengan warga Banyuyoso, selama Ramadhan kemarin saya ikut tarawih 23 rakaat di masjid lengkap dengan doa qunutnya dan tidak jarang juga diajak acara tahlilan untuk sekalian memberi penyuluhan. Yang menarik bagi saya, masih banyak orang tua di sini yang bangga kalau anaknya pandai mengaji, sejak usia PAUD hingga SMP mereka diantar belajar mengaji di masjid setiap sore. Kami bertemu dengan Pak Ustadz Wal, yang telah memperjuangkan TPA Masjid Baiturrahman sejak beliau datang ke Banyuyoso belasan tahun lalu dan sekarang dibantu oleh Bu Yayah yang juga seorang pendatang, mbak Nur dan mbak Reta. Ngaji anak-anak TPA di sini bagus-bagus, Pak Ustadz mengajari mereka dengan metode iqro dan tasmi’ Al Qur’an sembari menghafalkan surat-suratnya. Semua punya target hafalan minimal sampai QS Ad-Dhuha sebelum masuk SMP. Tanggal 27 Ramadhan kemarin kami menghadiri acara Khataman Qur’an bersama para orang tua dan tamu undangan yang pembacaannya diwakili oleh santri TPA yang pada tahun ini telah menyelesaikan target hafalannya. Mereka semua menyenandungkan Al Qur’an dengan nada khas yang nyaring dan kompak, dilanjutkan dengan tausyiah oleh seorang kiai undangan yang terdengar ramah dan humoris, dengan basa jawi krama campur ngoko membahas bagaimana membentuk akhlak Qur’ani di masyarakat.

Momen bukber bersama adik-adik TPA
Lomba TPA jelang Idul Fitri 1438H

Saya dan sebagian teman yang tertarik membantu mengajar TPA setiap hari pukul 15.30 – 17.00, kadang dilanjut buka bersama dengan membawa bekal masing-masing. Saat Ramadhan yang datang bisa mencapai 50 anak, usai lebaran menyusut jadi 20-30 anak yang kalau hujan tidak berangkat. Kami berusaha menyusun kurikulum, karena sebelumnya kegiatan anak-anak hanya mengaji dan hafalan, kami ingin menambahkan dongeng dan kisah, menyayi lagu-lagu Islam dan fikih praktis seperti tatacara shalat dan wudhu. Teman saya mengusulkan kelas tahsin, tapi perkiraan kami mengajar tahsin pada anak-anak seusia TPA akan sulit, mengingat tidak satupun dari kami yang berlatarbelakang pedagogik. Sayang sekali kami tidak mencobanya. Secara kesuluruhan kurikulum tersebut kurang terlaksana dengan baik karena jadwal para mahasiswa yang cukup padat. Kami juga mengadakan lomba pembacaan puisi, pidato, azan dan lampion. Menjelang Idul Fitri, bersama para santri kami menyiapkan takbiran keliling untuk pertama kalinya di Banyuyoso yang alhamdulillah berjalan meriah.

Bersambung…

Yogyakarta, 7 Agustus 2017

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *