Belajar Empati dari Jatuh Sakit

Categories Pengalaman

“Ada dua nikmat yang manusia sering terlena olehnya; nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Janji-janji semasa sakit

[5 Juli / awal kehamilan] “Dalam dua pekan ini, Allah menuntunku untuk belajar beberapa hal lagi. Diantaranya, betapa aku dikaruniai sahabat-sahabat yang sangat baik dan bagaimana seharusnya aku berterima kasih. Sebelumnya, aku yang cukup mandiri ini tidak begitu suka berharap pada orang lain dan tidak begitu suka orang lain berharap padaku; jadi ketika ada yang bisa kulakukan untuk membantu orang lain, akan kulakukan.. tapi kalau kondisi menghalangi, aku biasanya mudah pasrah. Tapi di masa-masa sulit dan benar-benar membutuhkan bantuan orang lain ini, mereka dengan tulus menaruh perhatian untukku dan benar-benar berusaha buatku, bahkan melakukan banyak hal yang rasanya lebih dari yang berhak aku terima.”

[27 Sep / hampir 3 bulan kemudian] Ketika aku sakit, banyak perubahan yang terjadi. Diantaranya, aku jadi sangat manja dan lebih gampang merasa sedih. Tolong ya, aku memang masih mengeja makna sabar. Aku hanya bisa berdoa. Tidak memiliki tubuh yang fit berbulan-bulan lamanya membuatku sadar betapa besar nikmat sehat dan bisa membandingkan betapa berjuang seorang pasien dengan penyakit kronisnya. Yang orang di sekitar mereka tahu adalah: orang tersebut sakit tergeletak tak berdaya, kemudian merasa kasihan. Lebih dari itu, there’s actually a silent struggle. Bagaimana pada awalnya ia pasti merasa sedih bahkan mungkin tidak terima, menjadi manja, mencari perhatian yang terasa berkurang, lalu perlahan mulai menerima keadaan, sambil menyesali semua nikmat sehat dan kesempatan yang pernah disiakan, hingga akhirnya mensyukuri nikmat yang masih dimiliki dan pernah dirasakan. Untuk sampai ke tahap bersyukur dan terus berjuang ini, ada proses yang panjang, ada perang dalam diri, ada jatuh bangun, setiap hari, setiap jamnya bahkan. Tentu kisahnya berbeda setiap orang dan bukan ditentukan hanya oleh salah satu faktor; apakah itu keilmuan, kondisi rohani, kondisi psikologis, masalah yang sedang dihadapi, dukungan lingkungan dan sebagainya. Tidak ada yang bisa menjamin.

Merasakan semua ini dalam skala lebih kecilnya membuatku belajar dan bersyukur. Alhamdulillah, sudah jelas kondisiku akan berangsur-angsur membaik seiring kehamilan ini insyaAllah, akan ada pelipurnya pula nanti, melihat si kecil. Sedangkan yang sakit kronis belum tentu bisa pulih seutuhnya, atau butuh waktu yang jauh lebih lama. Meski begitu, sama-sama perlu keyakinan akan kesembuhan dari-Nya dan pahala di akhirnya. Ya, sakit juga mengingatkanku betapa mahal surga Allah itu.

“..Whoever saved a life, it would be as if he had saved the entire mankind.” QS Al-Ma’idah :32

Nah, pekerjaan merawat orang sakit juga tentu awalnya melelahkan. Melihat wajah yang pucat dan cemberut seharian bisa mempengaruhi mood juga, kan? Belum lagi diminta untuk meladeni ini itu hingga urusan ke belakang. Butuh kesabaran, ketulusan, keikhlasan, hingga ketelatenan. Aku berharap, dengan mencicipi jatuh sakit ini aku tidak lupa lagi, jika bertemu orang yang sakit itu artinya Allah sengaja mengirimku khusus untuk membantu orang ini dengan segenap kemampuan. Tentu saja, termasuk ketika aku berperan sebagai dokter. Bukan hanya sebagai wujud empati, tapi inilah misi seorang insan itu sendiri; ada untuk orang lain. Agar bisa terus sabar, perlu diingat ini bukan hanya tentang bagaimana orang yang sakit itu bisa segera sembuh, tapi juga tentang diri sendiri agar belajar makna memberi. Setulusnya, lillahita’ala sehingga surga pula balasannya, aamiin. Mungkin dengan banyak latihan, kelak aku bisa jadi sosok yang selalu tersenyum, tetap sabar menghadapi bagaimanapun kondisi orang di depanku dan selalu mengeluarkan kalimat atau nasihat yang mampu menyejukkan, membantu sang pasien dalam silent struggle-nya, biidznillah.

“Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki lantaran orang-orang lemah di sekitar kalian?” (HR. Bukhari)

Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk sobat begelaga yang juga teman sejawat dokter 🙂

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

2 thoughts on “Belajar Empati dari Jatuh Sakit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *