Beberapa hari lalu, aku mencoba sebuah quiz untuk menentukan “kepribadian spiritual” dari yaqeeninstitute.org. Hasilnya, aku 65% “hand of power” karena rasanya aku memang paling suka menjadi relawan, 31% “heart of inspiration” karena ada sisi pemikir dan suka berbagi inspirasi, 4% “eye of vigilance” karena tetap ada sisi suka cari aman daripada terjebak dosa. Yang bikin cukup terkejut, “voice of justice” nggak masuk persenan. Aku sebegitu lemah kah menyuarakan keadilan? Terlepas dari kondisi diri & pikiranku saat menjawab pertanyaan2 yg cukup susah dan butuh perenungan dalam quiz itu, aku merasa ini cukup menggambarkan potensiku dalam berkontribusi untuk Islam. Kalau penasaran, coba quiz dan baca teori lengkapnya di link @yaqeeninstitute. Aku tahunya nggak sengaja dari mbak-mbak panutan @urfaqurrotaayun dan @nisasalsabila.

Hobiku menulis dan suka berbagi nggak kuragukan lagi, sejak SD aku menulis diary dan menyalin semua yang jadi inspirasi. SMP sering ikut lomba menulis di sekolah. SMA ikut ekskul jurnalistik sebagai anggota redaksi dan akhirnya sekjen organisasi. Tapi yang kuingat, aku paling susah kalau nulis kisah fiksi, bagiku pengalaman sendiri dan dari sekitar sudah cukup melimpah utk dituliskan (mungkin cocoknya jadi reporter ya, tapi aku juga susah ninggalin bahasa yang sedikit nyastra). Motivasi terbesarku menulis sejak dulu adalah untuk menghubungkanku dengan diri sendiri, menemukan benang merah kisahku sendiri. Bahkan menulis sempat berarti “writing therapy” bagiku. Tumpukan file tulisanku selalu bisa kubaca ulang untuk menjadi pengingat bagi diri sendiri at least (faktanya 70% tulisan disimpan tanpa pernah dibagi). Tapi dengan persepsi ini, aku benar2 hanya bisa menulis saat ingin dan faktor-faktor lainnya mendukung, tak bisa dipaksa, tak bisa serajin itu.

Suatu kali aku ikut kelas menulis bersama sang suhu, ust. @cahyaditakariawan (Pak Cah). Satu-satunya kelas yang lengkap dan integratif yang pernah kuikuti (modulnya keren!!), disitu aku merasa ditegur saat beliau bilang “naik level dalam menulis adalah dg menulis jenis artikel populer, saat kalian belajar tidak lagi menggunakan aku-kamu (orang pertama-kedua) melainkan orang ketiga atau tidak pakai sama sekali; berbicara pada semua orang. Untuk dakwah dan tingkat profesional, kalian harusnya bisa menulis itu.” Meski aku tetap bersikeras ‘mendewakan’ menulis dg gaya pengalaman pribadi karena menurutku bisa membangun kedekatan dengan pembaca, akhirnya aku mencoba menulis artikel populer juga. Nggak terlalu sulit, tapi nggak terbiasa.

Sayangnya setelah itu aku nggak gabung organisasi jurnalistik lagi. Aku join tumblr sejak 2009, tapi aku hanya menulis saat sempat. Aku juga nggak berkecimpung di dunia tulisan ilmiah selain skripsi *cry. Skill menulisku rasanya nggak berkembang lagi.
Cuma pernah nyumbang naskah untuk buku panduan mentoring dan nulis tema kesehatan di rubrik remaja. Banyak yang sebenarnya membuatku tergerak, tapi mungkin aku butuh mentor atau paling nggak sebuah komunitas. Saat ini, akses tumblr ditutup kominfo dan aku dibuatkan blog baru oleh suami dan karena beliau orang IT jadilah niat banget blognya. Itu salah satu ikhtiar kami supaya bisa berlatih menulis lagi. Niatnya juga berbagi sekiranya ada yang bermanfaat, itu bentuk syukur yang baik bukan?

Apalagi, seperti yang sejak dulu kuyakini, kekuatan pena memang tak diragukan lagi. Kalau tahu sebenarnya punya potensi, harusnya “voice of justice” bisa dibangkitkan lagi. Nggak selalu harus lewat aksara memang, bisa lewat kata dan tangan yang beraksi juga. Tapi, tulisan bisa jadi sarana latihan.

Kata Umar bin Khattab, “ajarilah anakmu sastra, niscaya yg pengecut menjadi pemberani.” Menyuarakan kebenaran dan keadilan.

Gimana menurut teman-teman? Ada yg sama mungkin denganku?
Mau kah mendukung ikhtiar kami ini? Hehe, seharusnya memang tetap nulis aja, banyak/tak banyak yang baca. Hanya ingin coba mengajak teman-teman supaya bareng-bareng. InsyaAllah ya :’)

Ah lega..hehe. Jazakumullahu khayr 😇
Ditulis 23 Desember 2018

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *