10 Tahun Bersama Simbah

Categories Kisah, Pengalaman

Hari ini tepat satu tahun dalam kalender masehi simbah berpulang ke rahmatullah. Tanggal 2 januari 2017 pagi hari ketika berjualan di depan rumah di Kepurun, Manisrenggo, Klaten, simbah mengeluh sakit dada dan minta dikerik karena menyangka masuk angin. Memang gejala sakit jantung sudah sekitar setahun lamanya dirasakan, beberapa kali pula diobati oleh dokter spesialis jantung. Takdir tak bisa dilawan, simbah dibawa ke RSI Manisrenggo ketika keadaannya makin parah. Saat itu simbah dibopong ke mobil oleh pakde dan penjual somay, saya sendiri menyiapkan mobil untuk segera berangkat.

Saat di mobil adalah saat kesadaran simbah berada dititik baik dan masih bisa mengatakan “adem” karena suasana mobil ber-ac ditambah kondisi tubuhya yang dingin. Di RSI diketahui simbah mengalami gejala serangan jantung, kondisinya sudah setengah sadar, bicaranya tidak karuan dan kaki kirinya kaku. Terakhir seperti menunjuk ke bagian belakang tubuhnya, kalau diterjemahkan mungkin ingin buang air. Atas pertimbangan dokter di RSI Manisrenggo akhirnya simbah dirujuk ke RS Sardjito untuk penanganan yang lebih maksimal. Sekitar pukul 12:00 siang ambulance yang membawa simbah sampai di RS Sardjito.

Sejak pukul 1 siang, berkumpul sebagian para anak dan cucu simbah di depan RS Sardjito dengan harap-harap cemas. Selama proses penangan oleh dokter kami semua hanya bisa berdoa memohon yang terbaik. Waktu berlalu, kami semua diminta berdoa oleh Om Jati yang saat itu berkomunikasi dengan Om Rahmat ketika menemani simbah di ruangan. Pukul 15:30 terdengar kabar bahwa simbah kritis dan saya yang sedang makan di kantin sardjito langsung berlarian ke IGD. Tepat pukul 16:00 kami dikabari bahwa simbah telah menghembuskan nafas terakhirnya. Pecahlah tangis kami para cucu dan yang lain mendengar kabar tersebut, semua berduka dan saling menguatkan satu sama lain.

Semua sudah suratan, tak ada yang bisa menolak maut, kullu nafsin dza iqotul maut, semua yang bernyawa pasti mati, kita semua harus mempersiapkan bekal sebaik-baiknya menujui akhirat sebelum ajal menjemput.

Yaah, sepuluh tahun bersama simbah adalah perjalanan panjang dengan segudang peristiwa. Mulai merantau sejak SMA hingga menyelesaikan dua jenjang di perguruan tinggi. Selama bersama simbah adalah masa membaktikan diri terhadap orang tua, doa dan kasih sayangnya terus mengalir dengan caranya. Mengantar pengajian, mengambil pensiunan ke kantor pos, ke pasar kulakan jajanan anak TK adalah rutinitas yang bertahun-tahun saya lakukan bersama simbah. Di usia senjanya, simbah masih bersemangat dalam menjalankan banyak aktivitas. Semangat dan kegigihan yang telah tumbuh dalam dirinya tetap dikobarkan sampai akhir hayatnya.

Sederet nama cucu seperti yang paling senior Mas Agung, Mas Koko, Mba Ayu, Mas Brian, Mas Billy, Benny dan saya pernah tinggal bersama simbah. Masing-masing punya cerita dan kenangan, ada yang sebentar dan ada yang sampai bertahun-tahun. Momen lebaran atau dikunjungi anak yang tinggal dari jauh adalah momen bahagia bagi simbah. Bisa melihat kesuksesan anak-anaknya, berkumpul dan bercengkrama tentang segala hal.

Tentunya sebagai cucu kami kadang melakukan kesalahan, namun sebaik-baik pelau kesalahan adalah memperbaiki dengan memperbanyak kebaikan. Maka dengan kesungguhan pula setiap ada waktu luang saya membantu simbah dalam segala aktivitasnya.

Terakhir, simbah belum sempat melihat cucu yang selama sepuluh tahun bersamanya ini melangsungkan pernikahan. Tepat sekitar 1 bulan 10 hari setelah wafatnya saya melangsungkan pernikahan. Paling tidak simbah telah mengikuti wisuda saya yang kedua di bulan Oktober dan di bulan Desember diadakan syukuran berupa pengajian dan pagelaran wayang sebagai bentuk banyak nikmat yang didapatkan oleh simbah selama ini.

Kotawaringin Lama, 2 Januari 2019

Please follow and like us:
Sementara dikelola oleh Faizal Widya Nugraha S.Kom, M.Eng dan istrinya, dr. Zahrin Afina. We write anything in mind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *